🎆 Kutipan Novel Angkatan 20 30An

moeisgoodreads share book, menerangkan sifat sifat tokoh dari kutipan novel salah, download ebook gratis abdoel moeis salah asuhan pdf, salah asuhan zahrancapricorn, bro g resensi novel salah asuhan, download novel novel indonesia 20 30 diposting oleh unknown di 05 54 unsur instrinsik novel angkatan 20 30 judul salah asuhan abdoel moeis
Contoh Novel Popular Angkatan 20, 30, dan 66 Berikut adalah Novel-Novel yang populer pada angkatan 20, 30, dan 66 berserta pengarangnya Novel Angkatan 20 1. Sitti Nurbaya karya Marah Rusli 2. Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati 3. Salah Asuhan karya Abdul Muis 4. Azab dan Sengsara karya Merari Siregar Novel Angkatan 30 1. Anak Perawan di Sarang Penyamun karya Ali syahbana 2. Belenggu karya Armin Pane 3. Dijemput Mamaknya karya Hamka 4. I Swasta Setahun di Bedahulu karya Pandji Trisna 5. Percobaan Setia karya Suman Novel Angkatan 66 1. Pada Sebuah Kapal karya Dini 2. Pertemuan Dua Hati karya Dini 3. Robohnya Suara Kami karya A. A Navis 4. Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya 5. Malau Aku Jadi Orang Indonesia karya Taufik Ismail 6. Godlob karya Danarto Beranda
KompetensiDasar yang relevan antara lain Menerangkan sifat-sifat tokoh dari kutipan novel yang dibacakan kelas IX semester 2 (BSNP 2006 49) Membandingkan Karakteristik novel angkatan 20-30an kelas IX semester 2 (BSNP 2006 51) dan Mengidentifikasi karakter tokoh novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan dengan indikator mampu mendata
Pelajaran 6 Komunikasi 129 Budak itu memegang tangan ibunya, seraya memandang mukanya dengan pandang yang lemah. Ibunya memeluk dan mencium cahaya matanya itu, seraya berkata “Ibu tidak menidakkan pemberian Allah, nafkah kita cukup selamanya, dan Riam lebih daripada permata yang mahal bagi ibu.” Sudah tentu si anak itu kurang mengerti akan ibunya itu. Sebab itu, ia melihat muka ibunya lagi dengan herannya. “Anakku bertanya tadi, apa sebabnya ada orang kaya dan ada pula orang miskin, sedang Tuhan itu menyayangi sekalian yang diadakan-Nya. Apa sebabnya, orang kaya itu kaya, ada. Ibu sudah berkata dahulu, Tuhan itu amat menyayangi manusia itu, bukan?” “Ya, Mak” sahut Mariamin, “Bagus. Allah yang Rahim amat mencintai hambanya. Oleh sebab itu, haruslah manusia itu menaruh sayang kepada sesamanya manusia. Mereka itu harus tolong-menolong. Riam berkata tadi ibu si Batu miskin, kita kaya. Jadi sepatutnya bagi kita menolong mereka itu, itulah kesukaan Allah. Riam pun haruslah mengasihi orang yang papa lagi miskin, dan rajin disuruh Mak mengantarkan makanan ke rumah orang yang serupa itu. Sudahkah mengerti Riam, apa sebabnya orang kaya itu kaya?” “Sudah, yakni akan menolong manusia yang miskin,” sahut si anak yang cerdik itu. “Benar, begitulah kehendak Allah” kata si ibu serta mencium kening anaknya itu berulang-ulang, matanya basah oleh air mata; dalam hatinya berkata, “Mudah-mudahan Allah memeliharakan anakku ini dan memberikan hati yang pengiba bagi dia.” Azab dan Sengsara, 200181-84 Berdasarkan kutipan novel tersebut, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut. 1. Kebiasaan, adat, dan etika yang terdapat dalam kutipan novel adalah berikut. a. Budaya makan keluarga selalu dilakukan bersama-sama lengkap; ayah, ibu, dan anak. Jika ada sesuatu hal yang di luar kebiasaan terjadi, maka anak diperbolehkan makan terlebih dahulu. Sementara istri harus tetap mengunggu suaminya. Kutipannya sebagai berikut. “Ayah sudah datang, sajikanlah nasi itu Mak, saya pun sudah lapar,” … “Baik, … Panggillah ayahmu, supaya kita bersama-sama makan …” “Ayah belum hendak makan” … “Baiklah anakku dahulu makan, hari sudah tinggi. Ibulah nanti kawan ayahmu makan.” b. Anak harus menurut perintah ibunya. Kutipannya sebagai berikut. “Pekerjaan itu, yakni mengantar-antarkan sedekah ke rumah orang lain, tiadalah paksaan bagi Mariamin …” “Jadi sepatutnya bagi kita menolong mereka itu, itulah kesukaan Allah. Riam pun haruslah mengasihi orang yang papa lagi miskin, dan rajin disuruh Mak mengantarkan makanan ke rumah yang serupa itu.” Berbahasa dan Bersastra Indonesia SMP Jilid 3 130 2. Perasaan dan pola pikir yang digunakan dalam novel sangat sederhana dan sesuai dengan realitas. Hal ini ditunjukkan saat Ibu Mariamin menjelaskan kepada Mariamin tentang mengapa ada orang kaya dan mengapa ada orang miskin. Penjelasan tersebut diungkapkan secara sederhana, bijaksana, dan masuk akal. 3. Keterkaitan isi kutipan novel dengan kehidupan masa kini. a. Kebersamaan dalam keluarga harus dibina sejak anak- anak masih berusia dini. Contoh makan bersama adalah kesempatan keluarga untuk dapat berkumpul bersama. b. Hidup hemat juga harus diterapkan dalam kehidupan keluarga sehingga mampu menjadi teladan bagi si anak. Contoh Ibu Mariamin meneladankan sikap dan perilaku hemat dengan memilih menganyam tikar daripada membelinya di pasar. c. Menanamkan nilai tolong-menolong kepada anak dapat dilakukan dengan cara orang tua memberikan teladan sikap dan perilaku. Contoh Ibu Mariamin sering meminta anaknya mengantarkan makanan ke rumah orang yang miskin. d. Menanamkan nilai-nilai persamaan derajat juga dapat dilakukan sejak anak masih berusia dini. Contoh Mariamin anak orang kaya bersahabat karib dengan Aminuddin anak orang miskin. Dalam mengidentifikasi kebiasaan, adat, dan etika yang terdapat dalam novel angkatan 20 sampai 30-an, kalian dapat melihat nilai historis yang terdapat dalam kutipan novel tersebut. Selain itu, kalian juga dapat mengidentifikasikannya dari ungkapan peribahasa yang terdapat dalam kutipan novel. Berikut dijelaskan nilai historis dan ungkapan peribahasa yang terdapat dalam kutipan novel Azab dan Sengsara. 1. Nilai historis yang terdapat dalam kutipan novel. Sekolah zaman dulu adalah SR Sekolah Rakyat. Sekolah ini diperuntukkan bagi anak orang kaya, dan anak bangsawan. Berdasarkan catatan sejarah diketahui bahwa pendirian sekolah ini sebagai akibat dijalankannya politik balas budi politik etik pemerintah Belanda sejak tahun 1918. Dengan adanya Sekolah Rakyat ini memberikan kesempatan bagi kalangan pribumi untuk belajar membaca dan menulis. Setelah mereka pandai, kelak akan dijadikan pegawai pemerintah Belanda. Pelajaran 6 Komunikasi 131 2. Ungkapan peribahasa yang terdapat dalam kutipan novel. a. “Hemat pangkal kaya, sia-sia utang tumbuh” artinya kalau hendak kaya harus pandai berhemat, sebab kalau boros tentu terjerumus ke dalam utang. b. “Hendak kaya berdikit-dikit, hendak mulia bertabur urai” artinya kalau ingin kaya, harus pandai berhemat; kalau ingin jadi orang terpandang wajib suka berdana. c. “Hancur badan di kandung tanah, budi baik dike- nang jua” artinya budi bahasa yang baik takkan mudah dilupakan orang. d. “Alang berjawat, tepuk berbalas” artinya baik dibalas dengan baik, jahat dibalas dengan jahat. e. “Kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa” artinya apabila selagi kecil dimanjakan, sudah besar akan bermanja-manja. f. “Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga” artinya sifat anak tak jauh dari sifat orang tuanya. g. “Di mana ranting dipatah, di situ air disauk” artinya hendaklah kita menurut adat-istiadat negeri tempat kita tinggal. h. “Guru makan berdiri, murid makan berlari” artinya kelakuan guruorang tua selalu diturut muridanaknya. i. “Tuntut ilmu dari ayunan sampai ke liang kubur” artinya belajarlah selalu sejak muda sampai tua. Uji Kemampuan 3 Guna meningkatkan kemampuanmu terhadap materi mengidentifikasi novel angkatan 20-30-an, bacalah kutipan novel berikut dengan cermat Maka menyerahlah Midun belajar silat oleh ayahnya kepada Pendekar Sutan. Karena Pak Midun seorang yang tahu dan arif, tiadalah ditinggalkannya syarat-syarat aturan berguru, meskipun tempat anaknya berguru itu adik sebapak dia. Pendekar Sutan dipersinggah dibawa, dijamu oleh Pak Midun dengan makan-minum, maka diketengahkannyalah oleh Pak Midun syarat- syarat berguru ilmu silat, sebagaimana yang sudah di Minangkabau. Syarat berguru silat itu adalah; beras sesukat, kain putih sekabung, besi sekerat pisau sebuah, uang serupiah, penjahit jarum tujuh, dan sirih pinang selengkapnya. Segala barang-barang itu sebenarnya kiasan saja semuanya. Arti dan wujudnya Beras sesukat, gunanya akan dimakan guru, selama mengajari anak muda yang hendak belajar itu, seolah-olah mengatakan; perlukanlah mengajarnya, janganlah dilalaikan sebab hendak mencari penghidupan lain. Kain putih sekabung, “alas tobat” namanya; maksudnya dengan segala putih hati dan tulus anak muda itu menerima pengajaran; samalah dengan kain itu putih dan bersih hati anak muda itu menerima barang apa yang diajarkan guru. Ia akan Berbahasa dan Bersastra Indonesia SMP Jilid 3 132 menurut suruh dan menghentikan tegah. Dan lagi mujur tak boleh diraih, malang tak boleh ditolak, kalau sekiranya ia kena pisau atau apa saja sedang belajar, kain itulah akan kafannya kalau ia mati. Besi sekerat pisau sebuah itu maksudnya, seperti senjata itulah tajamnya pengajaran yang diterimanya dan lagi janganlah ia dikenai senjata, apabila telah tamat pengajarannya. Uang serupiah, ialah untuk pembeli tembakau yang diisap guru waktu melepaskan lelah dalam mengajar anak muda itu. Hampir searti dengan beras sesukat tadi. Penjahit tujuh, artinya sepekan tujuh hari hendaklah guru itu terus mengajarnya, dengan pengajaran yang tajam seperti jarum itu. Dan meski tujuh macamnya mara bahaya yang tajam-tajam menimpa dia, mudah-mudahan terelakkan olehnya, berkat pengajaran guru itu. Pengajaran guru itu menjadi darah daging hendaknya kepadanya, jangan ada yang menghalangi, terus saja seperti jarum yang dijahitkan. Sirih pinang selengkapnya, artinya ialah akan dikunyah guru waktu ia menghentikan lelah tiap-tiap sesudah mengajar anak muda itu, dan lagi sirih pinang itu telah menjadi adat yang biasa di tanah Minangkabau. Sengsara Membawa Nikmat, Tulis Sutan Sati TAGIHAN 1. Carilah novel Indonesia terbitan tahun 1920 sampai 1930-an 2. Bacalah sebuah novel yang menurutmu menarik 3. Buatlah rangkuman singkat tentang isi novel tersebut 4. Temukanlah kebiasaan, adat, dan etika yang terdapat dalam novel tersebut 5. Jelaskanlah keterkaitan isi novel tersebut dengan kehidupan nyata sekarang Kerjakanlah sesuai dengan perintah 1. Temukanlah kebiasaan, adat, dan etika yang terdapat dalam kutipan novel tersebut 2. Jelaskanlah keterkaitan isi kutipan novel tersebut dengan kehidupan nyata sekarang D. Menulis Karya Tulis Ilmiah Karya tulis merupakah bentuk karangan yang mengungkapkan ide, pikiran, dan perasaan penulisnya dalam satu kesatuan tema yang utuh. Karya tulis yang digolongkan sebagai karya ilmiah merupakan karangan yang didasarkan pada kegiatan ilmiah. Kegiatan ilmiah dalam hal ini dapat berupa penelitian lapangan, percobaan laboratorium, atau telaah buku. Sebuah tulisan disebut karya tulis ilmiah apabila mengandung usnur-unsur berikut. 1. Didasarkan pada fakta dan data. 2. Disajikan secara objektif atau apa adanya. 3. Menggunakan bahasa yang lugas dan jelas. Tujuan Pembelajaran Tujuan belajar kalian adalah dapat mem- buat karya tulis ilmiah sederhana berdasarkan berbagai sumber. Pelajaran 6 Komunikasi 133 Kemampuan membuat karya tulis ilmiah sangat kalian perlukan dalam proses pembelajaran. Selain itu, karya tulis ilmiah yang baik akan memberikan banyak manfaat bagi diri kalian sendiri dan masyarakat umumnya. Sumber informasi yang digunakan dalam sebuah karya tulis ilmiah, baik berupa teori, pendapat, atau kutipan lain, harus diungkapkan dengan jelas dan dicantumkan sumber pengambilan tersebut. Sumber tulisan dapat ditulis secara langsung setelah kutipan atau diletakkan di dalam bagian daftar pustaka. Sebelum berlatih membuat karya tulis ilmiah sederhana yang didasarkan dari berbagai sumber tertulis, perhatikan contoh karya tulis ilmiah di bawah beserta penjelasannya. Informasi beserta sumber informasi – Internet adalah sebuah jaringan multimedia yang pengopera- siannya memerlukan seperangkat komputer, modem, dan jaringan telepon atau satelit. – Dengan hanya berbekal sampai dengan untuk setiap jam di warung internet warnet, kita memperoleh banyak data yang kita perlukan baik untuk penulisan artikel maupun penelitian. “Berinternet Gratis dengan JUICE” dalam Suara Merdeka, 30 Agustus 2004. Berdasarkan informasi dan sumber informasi di atas, kalian dapat menyusun sebuah tulisan ilmiah sederhana seperti contoh berikut. Ingin Tahu? Sistematika penulisan ilmiah. 1. Pendahuluan. 2. Permasalahan. 3. Pembahasan. 4. Penutup kesimpulan dan saran. 5. Daftar pustaka. Langkah-langkah menulis karya tulis ilmiah. 1. Menentukan topik yang akan dibahas. 2. Menentukan tujuan pembahasan. 3. Mengumpulkan bahan. 4. Membuat kerangka tulisan. 5. Menyusun kerangka tulisan menjadi karya tulis ilmiah yang utuh dan lengkap. Pemanfaatan Internet I. Pendahuluan Berkembangnya teknologi informa- tika telah membuka wawasan baru bagi dunia pendidikan di Indonesia. Betapa tidak, berbagai sumber informasi yang kita perlukan kini tersedia di depan mata. Maka, tidaklah mengherankan jika ada yang menyatakan siapa yang menguasai teknologi, dialah yang memainkan peranan penting di kemudian hari. Keterbukaan akses internet membuka peluang besar bagi dunia pendidikan untuk terus meningkatkan mutunya. Dengan demikian, dituntut peran serta semua civitas akademik mulai guru, siswa, orang tua siswa, dan pemerintah untuk memanfaatkan peluang-peluang yang tersedia melalui media internet. II. Permasalahan Bagaimana pola pemanfaatan me- dia internet yang ideal bagi dunia pendidikan? III. Pembahasan Pengertian internet Internet adalah sebuah jaringan multimedia yang pengoperasiannya memerlukan seperangkat komputer, mo- dem, dan jaringan telepon atau satelit. Internet merupakan salah satu jendela kita untuk dapat mengetahui berbagai perkembangan dunia ilmu pengetahuan di dunia luar. Prosedur pencarian data di internet Cukup hanya memasukkan kata kunci dari data yang kita perlukan, secara otomatis jaringan internet akan mencari dan menampilkan data-data yang kita Berbahasa dan Bersastra Indonesia SMP Jilid 3 134 perlukan. Dengan hanya berbekal sampai dengan untuk setiap jam di warung internet warnet, kita memperoleh banyak data yang kita perlukan baik untuk penulisan artikel maupun penelitian. IV. Penutup Kesimpulan 1. Teknologi internet merupakan perkembangan yang harus diikuti oleh setiap civitas akademik, sehingga kehadirannya mampu memberikan nilai tambah bagi dunia pendidikan. 2. Perlu kesadaran semua pihak bahwa penerapan teknologi multimedia dalam dunia pendidikan penting untuk segera dilakukan sehingga terbentuk sebuah komunitas atau jaringan belajar yang interaktif. 3. Dengan berhasilnya pemanfaatan internet, diharapkan dapat menunjang kreativitas remaja dalam dunia penulisan ilmiah. Saran Mengingat pemanfaatan internet masih memerlukan biaya yang tidak sedikit, alangkah baiknya jika pihak sekolah untuk sementara waktu ini memanfaatkan akses internet yang berlangganan. Di tahun 2008, teknologi internet akan lebih mudah dan gratis dengan cara bergabung dalam komunitas JUICE, karena komunitas JUICE mempunyai program khusus yang hanya memanfaatkan line telepon tanpa menggunakan pulsa. V. Daftar Pustaka Junaedi, Fajar. 2004. “Berinternet Gratis dengan JUICE” dalam Suara Merdeka. Semarang Suara Merdeka, 30 Agustus 2004. http Contoh karya tulis di atas menggunakan format ilmiah, yaitu dengan menggunakan bahasa baku dan sistematika ilmiah. Berdasarkan daftar pustaka, dapat kalian lihat bahwa karya tulis tersebut menggunakan dua sumber, yaitu dari media massa dan internet. Beberapa hal yang perlu kalian perhatikan dalam membuat karya tulis adalah berikut. 1. Tentukan objek yang akan dikaji. 2. Tentukan permasalahan yang akan dibahas dari objek kajian. 3. Kumpulkan sumber-sumber bacaan pendukung baik berupa informasi maupun teori. 4. Analisislah objek kajian dengan mengulas permasalahan yang dikemukakan. 5. Buatlah kesimpulan berdasarkan hasil analisis. 6. Tulislah sumber bacaan dan lainnya dalam daftar pustaka. Dalam penulisan karya ilmiah atau karya tulis, diperlukan sumber kepustakaan atau daftar pustaka. Daftar pustaka merupakan sumber rujukan atau sumber bacaan sebagai sarana penunjang dalam proses penulisan karangan. Kumpulan sumber bacaan tersebut disusun secara sistematis berdasarkan abjad pengarang dan judul atau secara berurutan. Unsur-unsur informasi kepustakaan yang diutamakan dalam daftar pustaka adalah berikut. TAGIHAN Susunlah sebuah karya tulis dengan topik bebas Buatlah catatan pustaka dan daftar pustaka yang merujuk pada sumber- sumber referensi yang kamu gunakan
NovelAngkatan 30-an memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. Pengarang lebih bebas menentukan nasib karya sastranya sendiri. 2. Isi novel menampilkan persoalan yang dihadapi masyarakat kota. 3. Novel Angkatan 30-an menggambarkan cara menggunakan kebebasan dan fungsi kebebasan dalam masyarakat. 4.
Tujuan pembelajaran Setelah mempelajari materi pada subbab ini, kamu diharap dapat mengidentifikasi novel angkatan 20-30an dengan baik dan tepat. Indonesia mempunyai banyak peninggalan karya sastra literer dari para sastrawan yang nama mereka abadi hingga kini. Sebagai generasi muda, ada baiknya kita mempelajari warisan tersebut sebagai refleksi akan kehebatan pendahulu kita, dan nilai-nilai yang terkandung dalam dokumen sosial tersebut tentu ada yang masih relevan dengan kehidupan saat ini. Pada pertemuan ini kita mempelajari novel angkatan 1920-an. Penamaan Angkatan Balai Pustaka terjadi karena karya-karya mereka dimuat dan diterbitkan oleh Balai Pustaka. Adapun ciri pembeda antara novel angkatan 1920-1930 dan novel masa kini bisa dibedakan melalui a. tema yang diangkat, b. tokoh-tokoh yang dikisahkan, c. konflik yang terjadi, d. setting/latar yang ditampilkan, e. pilihan kata, f. gaya bahasa. 3. Menyatakan berulang-ulang; contoh berteriak-teriak, menggaruk-garuk. 4. Menyatakan saling; contoh pukul-memukul, tinju-meninju, tikam-menikam. 5. Menyatakan agak; contoh keabu-abuan, kemerah-merahan. 6. Menyatakan sangat; contoh sekencang-kencangnya, erat-erat, kuat-kuat. 7. Menyatakan himpunan; contoh satu-satu, dua-dua, tiga-tiga. 8. Menyatakan meskipun; contoh Mentah-mentah ia makan juga jambu tersebut. Kata-kata berikut kembangkan dalam sebuah kalimat dan tentukan arti perulangannya! 1. duduk-duduk 6. menulis-nulis 11. hati-hati 2. tidur-tidur 7. centang-perentang 12. kekuning-kuningan 3. huru-hara 8. carut-marut 13. berjalan-jalan 4. leluhur 9. undang-undang 14. tikam-menikam 5. sia-sia 10. tunggang-langgang 15. adik-adik Bacalah petikan novelangkatan 20-an berikut! Pertemuan Jodoh Karya Abdoel Moeis ... ”Oh, suatu pun tak ada yang akan menjadi kuatir. Masa dahulu memang kuranglah amannya di situ, hingga sado-sado pun acapkali ditahan oleh penyamun. Apalagi yang mengendarai kereta api tentu harus menaruh kuatir buat lalu di sana. Tapi sekarang sudah didirikan pos polisi di Jambatan Merah, dengan polisi yang bersenjatakan bolak-balik saja sepanjang jalan itu.” ”Oh, kalau demikian sungguh senang melalui jalan itu malam hari dengan kereta angin. Buat sebentar keluar kita dari keramaian kota, yang penuh dengan auto dan sekalian kendaraan lain, dan sesak pula oleh orang banyak.” ”Nanti kita menyimpang ke Gang Ketapang, melalui Petojo akhirnya bisa sampai pula ke tanah lapangan Gambir.” ”Oh,” kata Corrie dengan mengeluh, ”Jika badanku tidak terikat, ke Tanjung Priok pun aku suka. Jika sehari-harian duduk saja dalam kamar atau di sekolah, maka pelancungan keluar itu seolah-olah mengalirkan darah baru ke dalam tubuh. Otak pun berasa segar.” Dalam beramah-ramahan sampailah mereka ke Jambatan Merah. Sepanjang jalan teranglah cuaca, hingga rasa tak perlulah lentera-lentera jalan dinyalakan. Di Jambatan Merah, Corrie mengajak turun sebentar lalu memandanglah kedua anak muda itu ke sepanjang ”kanaal”, yang pada waktu itu berkilau-kilau warna airnya ditimpa oleh cahaya bulan yang terang-benderang. Di muka mereka terbentanglah padang luas, ditumbuhi oleh semak-semak,berkeliaran beribu-ribu kunang-kunang di situ. ”Sukakah engkau, bila kita melancung pada hari Minggu ke tepi laut di Neiuw Zandvoort, Corrie?” ”Sebenarnya aku sedang menghitung-hitung harimu buat tinggal di Betawi lagi, Hanafi. Alangkah sunyi kehidupanku, bila engkau kembali ke Sumatra Barat. Apakah hari Minggu yang akan datang engkau masih di sini?” ”Ya,Corrie. Kuhitung-hitung sudah lebih dari empat belas hari engkau di Betawi.” ”Sebenarnya, Corrie, tapi aku sudah minta tambah verlof.” ”Oh, apakah engkau belum dinyaakan sembuh oleh dokter? Baik-baik Hanafi, jika engkau bermaksud hendak menerima waris dari anjing gila itu, lebih dari engkau mesti memberi tahu daku!” ”Oh janganlah engkau takut Corrie. Untunglah diriku sudah terpelihara dari penyakit yang hebat itu. Tapi verlofku kuminta tambah, bukan karena penyakit itu.” ”Buat tinggal selama-lamanyadi Kota Betawi, Corrie!” ”Eh? Apakah engkau minta berhenti dari pekerjaanmu di Solok?” ”Belum, alngkah senang hatiku, bila jalan itu sudah terbuka.” ”Aku belum mengerti akan maksudmu, Hanafi?” ”Dengarlah, Corrie. Beberapa hari yang lalu aku sudah minta pindah ke Departemen BB di sini. Kata Chefafeeling, bahwa pindahan dari kantor Gewest ke Departemen itu tidaklah lazim; melainkan menantikan dahulu, apakah aku dapat ditempatkan di sini. Bila ada tempat, apakah aku minta berhenti dari jabatan sekarang, supaya sempat yang berkewajiban akan mengangkat dalam jabatan yang baru itu. Aku sendiri tidak mengerti apa perlunya mengambil jalan sepanjang jalan itu, tapi kata mereka itulah jalan yang lazim.” ”Ah, senang sekali hatiku, bila engkau sampai dapat pindah ke mari, Hanafi! Tapi... eh, ya ... anak istrimu, demikian juga ibumu, tentu kau suruh datang ke mari? Ya, eh, ya itulah yang sebaik-baiknya.” Dengan tidak disengajanya, Corrie sudah mengeluh,menarik napas panjang, lalu memandang kepada air, yang bergulung-gulung dan membuih keluar dari pintu air. Hanafi memandang pula pada permukaan air yang sedang berlaku di bawah kakinya itu, lalu berkata dengan mengeluh pula, ”Kira-kira mereka itu tidak datang ke Betawi,Corrie!” ”Eh?” ”Ya, tidak dapat kuterangkan kepadamu dengan sepatah dua patah kata saja. Tapi maksudku hendak meninggalkan mereka di Solok saja.” ”Tidak boleh jadi, Hanafi. Kewajiban orang yang sudah berumah tangga janganlah kau pandang enteng.” ”Itulah yang sudah aku menyebutnya, Corrie. Di dalam beberapa hari ini timbullah persabungan perasaan dan dalam kalbuku. Tak dapat aku mengatakan bagaimana bimbangnya rasa hatiku!” ”Ya, Hanafi! Aku memang ’anak Padang’, tahulah aku bagaimana kebiasaan orang Melayu terhadap perempuan yang dikawininya. Dengan tidak menaruh sesuatu keberatan, istri itu ditinggalkannya saja di kampung, sedang ia mengembara ke negeri orang, lalu beristri dan beranak pula di tempat pengembaraan itu. Tapi, perbuatan serupa itu bolehlah dilakukan oleh orang kampung yang tidak bersekolah, Hanafi. Engkau sendiri tak boleh berlaku serupa itu, karena perbuatan serupa itu, bagi orang yang serupa engkau, boleh dinamakan kerendahan budi’. Novel berjudul ”Pertemuan Jodoh” tersebut merupakan salah satu karya sastra angkatan 20-an yang disebut pula dengan angkatan Balai Pustaka. Berdasarkan kutipan novel tersebut, terdapat salah satu ciri angkatan 20-an, yaitu bersifat mendidik dan mengajar. Kutipan novel tersebut menggambarkan kebiasaan orang Melayu yang kurang baik, yaitu meninggalkan dan menelantarkan istri dan anak, serta membina keluarga baru di tempat perantauan. Pendidikan yang ingin disampaikan oleh novel tersebut ialah kesetiaan terhadap keluarga. Latihan Bacalah kutipan novel berikut dan kerjakan pelatihan yang menyertainya! Pulang dari Sekolah Kira-kira pukul satu siang, kelihatan dua orang anak muda bernaung di bawah pohon ketapang yang rindang, di muka sekolah Belanda Pasar Ambacang di Padang, seolah-olah mereka hendak memperlindungkan dirinya dari panas yang memancar dari atas dan timbuh dari tanah, bagaikan uap air yang mendidih. Seorang dari anak muda ini ialah anak laki-laki yang umurnya kira-kira 18 tahun. Pakaiannya baju jas tutup putih dan celana pendek hitam, yang terkancing di ujungnya. Sepatunya sepatu hitam tinggi, yang disambung ke atas dengan kaus sutra hitam pula dan diikatkan dengan ikatan kaus getah pada betisnya. Topinya topi rumput putih, yang biasa dipakai bangsa Belanda. Di tangan kirinya ada beberapa kitab dengan sebuah peta bumi dan dengan tangan kanannya dipegangnya sebuah belebas, yang dipukul-pukulkannya ke betisnya. Jika dipandang dari jauh, tentulah akan disangka anak muda ini seorang anak Belanda, yang hendak pulang dari sekolah. Tetapi jika dilihat dari dekat, nyatalah ia bukan bangsa Eropa; karena kulitnya kuning sebagai kulit langsat, rambut dan matanya hitam sebagai dawat. Di bawah dahinya yang lebar dan tinggi nyata kelihatan alis matanya yang tebal dan hitam pula. Hidungnya mancung dan mulutnya halus. Badannya sedang, tak gemuk dan tak kurus, tetapi tegap. Pada wajah mukanya yang jernih dan tenang, berbayang, bahwa ia seorang yang lurus, tetapi keras hati, tak mudah dibantah, barang sesuatu maksudnya. Menilik pakaian dan rumah sekolahnya, nyata ia anak yang mampu dan tertib, sopannya menyatakan anak seorang yang berbangsa tinggi. Teman anak muda ini ialah seorang anak perempuan yang umurnya kira-kira 15 tahun. Pakaian gadis ini pun sebagai pakaian anak Belanda juga. Rambutnya yang hitam dan tebal itu dijalinnya dan diikatnya dengan benang sutra, dan diberinya pula berpita hitam di ujungnya. Gaumnya baju nona-nona terbuat dari kain batis, yang berkembang merah jambu. Sepatu dan kausnya, coklat warnanya. Dengan tangan kirinya dipegangnya sebuah batu tulis dan sebuah kotak yang berisi anak batu, pensil, pena, dan lain-lain sebagainya; dan di tangan kanannya adalah sebuah payung sutra kuning muda, yang berbunga dan berpinggir hijau. Alangkah elok parasnya anak perawan ini, tatkala berdiri sedemikian! Seakan- akan dagang yang rawan, yang bercintakan sesuatu, yang tak mudah diperolehnya. Pipinya sebagai pauh dilayang, yang kemerah-merahan warnanya kena bayang baju dan payungnya, bertambah merah rupanya, kena panas matahari. Apabila ia tertawa cekunglah kedua pipinya, menambahkan manis rupanya; istimewa pula karena pada pipi kirinya ada tahi lalat yang hitam. Pandangan matanya tenang dan lembut, sebagai janda baru bangun tidur. Hidungnya mancung, sebagai bunga melur, bibirnya halus, sebagai delima merekah, dan di antara kedua bibir itu kelihatan giginya, rapat berjejer, sebagai dua baris gading yang putih. Dagunya sebagai lebah bergantung, dan pada kedua belah cuping telinganya kelihatan subang perak, yang bermatakan berlian besar, yang memancarkan cahaya air embun. Di lehernya yang jenjang tergantung pada rantai emas yang halus sebuah hati-hati yang bermatakan permata delima. Jika ia minum, seakan-akan terbayangkan air yang diminumnya di dalam kerongkongannya. Suaranya lemah lembut bagai buluh perindu, memberi pilu yang mendengarnya. Dadanya bidang, pingganggnya ramping. Lengannya dilingkari gelang ular-ular, yang bermatakan beberapa butir berlian yang bernyala-nyala sinarnya. Pada jari manis tangan kirinya yang halus itu kelihatan sebentuk cincin mutiara yang besar matanya. Kakinya baik tokohnya dan jalannya lemah gemulai. Menurut bangun tubuh, warna kulit dan perhiasan gadis ini, nyatalah ia bangsa anak negeri di sana; anak orang kaya atau orang yang berpangkat tinggi. Barangsiapa memandangnya, tak dapat tiada akan merasa tertarik oleh sesuatu tali rahasia, yang mengikat hati, dan jika mendengar suaranya, terlalailah daripada sesuatu pekerjaan. Sekalian orang bersangka, anak ini kelak, jika telah sampai umurnya niscaya akan menjadi sekuntum bunga, kembang Kota Padang, yang semerbak baunya sampai ke mana-mana, menjadikan asyik berahi segala kumbang dan rama-rama yang ada di sana. “Apakah sebabnya Pak Ali hari ini terlambat datang? Lupakah ia menjemput kita?” demikianlah tanya anak laki-laki tadi kepada temannya yang perempuan, sambil menoleh ke jalan yang menuju ke pasar Kampung Jawa. “Ya, biasanya sebelum pukul satu ia telah ada di sini. Sekarang, cobalah lihat! Jam di kantor telepon itu sudah hampir setengah dua,” jawab anak perempuan yang di sisinya. “Jangan-jangan ia tertidur karena mengantuk; sebab tadi malam ia minta izin kepada ayahku, pergi menonton komidi kuda. Kalau benar demikian, tentulah kesalahannya ini akan kuadukan kepada ayahku,” kata anak laki-laki itu pula, sebagai marah rupanya. “Ah, jangan Sam. Kasihanilah orang tua itu! Karena ia bukan baru sehari dua bekerja pada ayahmu, melainkan telah bertahun-tahun. Dan di dalam waktu yang sekian lamanya itu belum ada ia berbuat kesalahan apa-apa. Bagaimanakah rasanya kalau kita sendiri sudah setua itu masih dimarahi juga? Pada sangkaku, tentulah ada alangan apa-apa padanya. Jangan-jangan ia mendapat kecelakaan di tengah jalan. Kasihan orang tua itu! Lebih baik kita berjalan kaki saja perlahan-lahan, pulang ke rumah; barangkali di tengah jalan kita bertemu dengan dia kelak,” kata anak perempuan itu pula seraya membuka payum sutranya dan berjalan perlahan-lahan ke luar pekarangan rumah sekolah. “Ya, tetapi aku lebih suka naik bendi daripada berjalan kaki, pulang ke rumah, sebab aku amat lelah rasanya dan hari amat panas. Lihatlah mukamu telah merah sebagai jambu air, kena panas matahari,” jawab anak laki-laki itu seakan-akan merengut, tetapi diikutinya juga temannya yang perempuan tadi. “Benar hari panas, tetapi tak mengapa. Kaulihat sendiri, aku ada membawa pay- ing yang boleh kita pakai bersama-sama. Merah mukaku ini bukan karena panas semata- mata, melainkan memang sejak dari sekolah sudah merah juga.” “Apa sebabnya? Barangkali engkau dimarahi gurumu,” tanya Sam, demikianlah nama anak laki-laki itu, sambil memandang kepada temannya. “Bukan begitu, Sam, hanya… O, itu Pak Ali datang!” Tiada berapa lama kemudian berhentilah di muka anak muda ini sebuah bendi yang ditarik oleh seekor kuda Batak. Rupanya kuda ini telah lama dipakai karena badannya basah dengan peluh. Di atas benda ini duduk seorang kusir, yang umurnya kira-kira 45 tahun, tetapi badannya masih kukuh. Pada air mukanya nyata kelihatan bahwa ia seorang yang lurus hati dan baik budi, walaupun ia tiada remaja lagi. “Pak Ali, mengapa terlambat datang menjembut kami? Tahukah bahwa sekarang ini sudah setengah dua? Setengah jam lamanya kami harus berdiri di bawah pohon ketapang, sebagai anak ayam ditinggalkan induknya,” kata Sam seakan-akan marah, sambil menghampiri bendi yang telah berhenti itu. “Engku muda, janganlah marah! Bukannya sengaja hamba terlambat. Sebagai biasa, setengah satu telah hamba pasang bendi ini untuk menjemput Engku Muda. Tetapi Engku Penghulu menyuruh hamba pergi sebentar menjemput engku Datuk Meringgih karena ada sesuatu yang hendak dibicarakan. Kebetulan Engku Datuk itu tak ada di tokonya sehingga terpaksa hamba pergi ke Ranah, mencarinya di rumahnya. Itulah sebabnya terlambat hamba datang, jawab kusir tua itu dengan sabar. Sumber Sitti Nurbaya karya Marah Rusli Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan berdiskusi kelompok! 1. Siapa saja tokoh dalam kutipan novel tersebut! 2. Jelaskan setting latar dalam kutipan novel tersebut! 3. Apakah yang mereka gunakan sebagai alat transportasi pulang-pergi ke sekolah? 4. Mengapa Pak Ali terlambat menjemput? 5. Berapa jam mereka menunggu jemputan Ubahlah kata/kelompok kata berikut dengan kata/kelompok kata yang umum digunakan saat ini! 1. Kira-kira pukul satu siang, kelihatan dua orang anak muda, bernaung di bawah pohon ketapang yang rindang. 2. Alangkah elok parasnya anak perawan ini, tatkala berdiri sedemikian. 3. Pandangan matanya tenang dan lembut, sebagai janda baru bangun tidur. 4. Sekalian orang bersangka, anak ini kelak, jika sampai umurnya, niscaya akan menjadi sekuntung bunga. 5. Ah, jangan Sam. Kasihanilah orang tua itu! Karena ia bukan baru sehari dua bekerja pada ayahmu, melainkan bertahun-tahun.
\n\n kutipan novel angkatan 20 30an
Nah kalau membicarakan novel Angkatan 20 dengan 30-an, ada kemiripan/ persamaannya. Apa saja? Simak penjelasan berikut: a. Tema berkisar masalah adat dan kawin paksa b. Isinya kebanyakan mengkritik keburukan adat lama dalam soal perkawinan. c. Tokoh-tokohnya diceritakan sejak muda hingga meninggal dunia d. Konflik yang dialami para tokoh
Tujuan Setelah pembelajaran ini diharapkan kalian dapat membandingkan karakteristik novel angkatan 20 – 30an. yurknya yang baru ialah kenikmatan pandanganmata. Ada-ada saja cara menyusun warna sehingga selalu indah rupanya. Meskipun kepandaian Maria itu bukan baru diperolahnya dalam sebulan dua ini, tetapi baru dalam waktu yang akhir inilah hal itu kentara kepada Tuti, seolah-olah baru terbuka matanya untuk menghargai kepandaian adiknya itu. Kadang-kadang terasa kepadanya perasaan iri yang halus di dalam hatinya. Maria menarik kursi dekat Tuti dan agak mengeluh duduknya ia dekat saudaranya itu, seraya berkata, “Mengapakah badan saya selalu amat letih kalau sudah main tenis?” “Barangkali engkau tidak baik main sport,” jawab Tuti melihat adiknya yang sesunggunya agak letih rupanya, meskipun ia segar baru mandi. “Baiklah engkau suruh periksa badanmu kepada dokter atau berhentikan main tenis itu.” “Ah, saya tidak mau diperiksa dokter,” ujar Maria. “Barangkali letih saya itu sebab saya belum lama benar main tenis. Awak belum biasa.” Sambil ia mengucapkan perkataannya yang akhir itu, matanya melihat kepada buku yang di tangan Tuti. Agak ganjil nampak kepadanya. Lalu diangkatnya buku itu hendak melihat namanya, Zonder Liefde geen Geluk! Tanpa Cinta tidak Berbahagia. “Buku saya ini Tuti. Apa mimpimu sekarang telah membaca buku Courths Mahler pula? Dahulu engkau tertawakan saya membaca buku ini, sekarang engkau sendiri membacanya.” Muka Tuti memerah mendengar upat adiknya yang tepat itu, dan dengan senyum yang agak dibuat-buat jawabnya, jangan tidak menjawab “sekedar hendak mengetahui saja, apa benar yang menarik anak-anak perawan membaca buku serupa ini.” “Ah, pandai engkau menjawab,” kata Maria, hendak menyentuh hati kakaknya yang tiada hendak berkata terus terang itu. “Kalau mau membacanya, katakan saja mau membacanya. Habis perkara!” Tuti tiada menjawab lagi, pura-pura tiada mendengar kata adiknya itu. Setelah beberapa lamanya duduk di kursi dekat Tuti itu, Maria berdiri seraya berkata, “Baiklah saya berbaring di atas dipan, supaya lekas hilang letih saya!” Beberapa lamanya sunyilah dalam ruang itu. Tuti membaca buku, sedangkan Maria berbaring seraya menjalan pikirannya melamun mengenangkan kekasihnya. Setelah membaca kutipan novel di atas, jawablah pertanyaan berikut. 1. menurutmu, bagaimanakah penggunaan bahasa pada novel tersebut? 2. jelaskanlah cara berpakaian pada kutipan novel tersebut. 3. menurutmu, dari kalangan atas, menengah, atau bawahkah tokoh Tuti dan Maria pada novel tersebut? Jelaskan alasanmu! 4. apa saja nilai budaya yang terkandung dalam kutipan novel tersebut, jelaskan! 5. kemukakan pendapat atau komentarmu tentang adat istiadat dalam kutipan novel tersebut di depan kelas sebagai bahan diskusi. Sekarang, carilah novel-novel baru yang ada di perpustakaan sekolah atau di toko buku. 1. Bacalah salah satu novel tersebut. 2. analisislah unsur-unsur budaya yang ada pada novel tersebut. 3. buatlah perbandingan antara novel baru yang kamu baca dengan novel 20-an atau 30-an yang telah kamu baca sebelumnya. 4. kerjakanlah secara berkelompok 3-4 orang. 5. buat laporan bacaan dari kedua novel yang kamu baca tersebut. Banyak peristiwa yang dapat menginspirasi kita untuk berkarya. Berbagai peristiwa yang kita alami, saksikan, dengar, atau baca, dapat memicu kita membuat suatu karya. Salah satunya adalah naskah drama. Pada pembelajaran kali ini, kalian akan belajar menulis teks drama. Teks drama berbeda dengan teks prosa cerpen atau novel. Supaya lebih jelas, perhatikanlah teks penggalan drama di bawah ini! Latihan C . MENULIS NASKAH DRAMA Tujuan Setelah pembelajaran ini diharapkan kalian dapat menulis naskah drama berdasarkan peristiwa nyata. Lena Tak Pulang Karya Muram Batubara SATU Lampu menyala. Dalam sebuah rumah. Sofa besar menghadap TV. Meja makan. Kulkas. Pintu Kamar mandi. Pintu dapur. Pintu kamar tidur. Pintu keluar masuk rumah. Pak Lena duduk memandang tv. Bu Lena keluar dari kamar mandi. Bu Lena Lena sudah pulang, Pak? Pak Lena Belum Bu Lena Duduk di kursi meja makan Bagaimana ini? Sudah tiga hari ia tidak pulang. Pak Lena Nanti juga pulang Bu Lena Sudah tiga hari Pak Lena Nanti juga pulang Bu Lena Ya, tapi belum juga pulang, padahal sudah tiga hari. Dia itu kan perempuan. Pak Lena Tetap memandang tv Anak kita. Bu Lena Iya, anak kita, tapi ia perempuan dan belum pulang tiga hari. Pak Lena Nanti juga pulang sendiri ketika bekalnya lari telah habis. Bu Lena Tidak segampang itu, Pak, ia itu perempuan! Pak Lena Jika memang ia perempuan, ia akan pulang. Bu Lena Tapi belum…Menghentikan kalimat, memperhatikan pintu keluar rumahAda yang datang, sepertinya itu Lena, anak kita, pulang juga ia setelah tiga hari tidak pulang. Pak Lena Bukan, pasti temannya datang mencari. Bu Lena Pasti Lena Pak Lena Berani taruhan Bu Lena Taruhan apa? Pak Lena Jika bukan Lena, lebaran tahun ini kita pulang ke rumah orang tuaku. Bu Lena Tapi tahun kemarin sudah Pak Lena Itu karena kau kalah taruhan Bu Lena Ya tidak bisa, bayangkan dalam lima tahun ini kita tidak pernah pulang ke rumah orang tuaku. Pak Lena Berani taruhan tidak? Bu Lena Bingung Ehm… Pak Lena Dengar langkah itu sudah semakin dekat. Bu Lena Baik Terdengar ketukan pintu. Bu Lena membuka pintu. kecewa. Tamu I Permisi Tante, Lenanya ada? Bu Lena Oh tidak ada, dia belum pulang. Tamu I Belum pulang? Pergi ke mana ya Tante? Bu Lena Tante juga tidak tahu tuh, kamu tahu tidak? Tamu I Ya, kalau tahu saya tidak datang Tante. Bu Lena Iya juga ya. Hm, kamu teman sekolahnya ya? Tamu I Bukan Tante, saya teman… Pak Lena Memotong Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di depan pintu. Tamu I Terima kasih Om, saya harus kembali pulang. Pak Lena Kenapa buru-buru? Tamu I Ada yang harus buru-buru saya lakukan Bu Lena Jika buru-buru, kenapa mencari Lena? Tamu I Ya itu dia, Tante. Karena Lenalah saya harus buru-buru? Pak Lena Masuk dulu jangan buru-buru Bu Lena Iya masuk dulu Tamu I Maaf tidak bisa, saya permisi dulu. Bu Lena menutup pintu. Duduk di ruang tv. Pak Lena Siapa namanya? Bu Lena Siapa? Pak Lena Yang tadi? Bu Lena Teman Lena Pak Lena Iya, teman Lena tadi namanya siapa? Bu Lena Berarti tahun ini kita pulang ke rumah orang tuamu lagi? Pak Lena Jelas! Siapa nama teman Lena tadi! B u Lena Sudahlah ke rumah orang tuaku saja. Kasihan ibu sudah semakin tua, dia ingin melihat kita sekeluarga kan? Pak Lena Tidak bisa! Kesepakatan telah tercipta, tidak bisa dirubah. Jika terus dirubah, bagaimana menjalankan kesepakatan itu dan untuk apa membuat kesepakatan jika tidak ada kepastian untuk dilakukan. Siapa nama teman Lena tadi? Bu Lena Nggak tahu. Pak Lena Loh Bu Lena Kok loh Pak Lena Ya, loh, bagaimana mungkin kamu tidak menanyakannya? Bu Lena Kenapa bukan kamu? Pak Lena Aku kan sedang nonton tv dan aku tidak sedang berhadapan langsung dengannya. Terdengar ketukan pintu. Pak Lena Ada yang ketuk pintu, bukahlah. Bu Lena Bagaimana jika Lena? Pak Lena Ya tetap dibuka pintu kan? Terdengar ketukan pintu. Bu Lena Bukan itu, jika bukan Lena, perjanjian tadi batal. Terdengar ketukan pintu. Pak Lena Bukalah pintu itu, kasihan tamunya. Bu Lena Buat satu kesepakatan baru dulu. Terdengar ketukan pintu. Bu Lena Teriak ke arah pintu sebentar ya, lagi menunggu kesepakan nih, sabar ya. Pak Lena Ya sudah, buka sana. Bu Lena Kesepakatan? Pak Lena Yah! Pintu terbuka. Bu Lena puas. Perbincangan di depan pintu masuk rumah. Tamu II Kesepakatan apa Tante? Bu Lena Ah, tidak. Kamu siapa dan ada apa? Tamu II Saya temannya Lena, Tante, kebetulan saya sedang main di daerah sini. Bu Lena Terus Tamu II Ya, terus saya mampir. Karena kebetulan saya sedang main di daerah sini, jadi saya mampir ke sini, Tante. Bu Lena Terus Tamu II Ya, karena itu Tante, hm, Lenanya ada? Bu Lena Jadi karena kebetulan main di daerah sini, kamu mampir dan mencari Lena? Tamu II Benar itu Tante. Bu Lena Karena kebetulan? Tamu II Sebenarnya tidak Tante. Bu Lena Yang benar yang mana? Tamu II Saya memang mencari Lena, Tante. Bu Lena Karena main di daerah sini? Tamu II Tidak Tante, saya memang sengaja kemari untuk mencari Lena. Sumpah, Tante. Tamu II masuk dan duduk di ruang tv. Bu Lena masuk dapur. Tamu II Nonton berita ya, Om? Pak Lena Tidak, cuma sedang melihat tanggapan wakil rakyat tentang bencana yang tidak berkesudahan. Tamu II Itukan berita namanya, Om. Pak Lena Itu bukan berita, itu opini. Opini itu pendapat, kebenarannya masih belum bisa diandalkan. Namanya berita harus mengutamakan kebenaran, kenyataan. Tamu II Tapi itukan acara berita, Om. Pak Lena Memang, beritanya, wakil rakyat sedang memberikan opini. Tamu II Berarti sedang nonton berita, Om. Pak Lena Tidak, saya sedang melihat opini. Ingat, opini! Tamu II Bedanya apa, Om? Pak Lena Opini itu tidak murni kenyataan, namanya juga pendapat, sedang berita itu nyata, kenyataan tadi. Begini, kucing ditabrak mobil, itu berita. Tamu II Kalau opini? Pak Lena Mengapa kucing itu mau ditabrak? Tamu II Mungkin saja ia tidak melihat mobil yang laju, tiba-tiba saja ia sudah bersimbah darah. Pak Lena Itu dia opini. Tamu II Opini? Pak Lena Ya, opini kamu. Lihat omongan wakil rakyat itu, semuanya serba mungkin kan? Tamu II Jadi yang serba mungkin itu bukan berita? Pak Lena Mungkin kok berita. Mungkin itu kan belum jelas sedang berita adalah yang jelas dan pasti. Tamu II Tapi apa yang pasti di jaman sekarang, Om? Pak Lena Ya, opini. Sumber Pada naskah drama ada bagian-bagian wicara atau pembicaraan tertentu yang harus kalian pahami. Di antarnanya adalah sebagai berikut. 1. Dialog, yaitu percakapan dalam drama yang melibatkan dua tokoh atau lebih. 2. Prolog, yaitu pembicaraan seorang narator pada awal pementasan drama 3. Epilog, yaitu bagian akhir drama sebagai kesimpulan atau penutup. 4. Monolog, yaitu pembicaraan seorang tokoh terhadap dirinya sendiri. 1. Bergabunglah dengan kelompokmu! 2. Buatlah sebuah naskah drama berdasarkan pengalaman kalian atau salah seorang anggota kelompok. 3. Naskah drama yang dibuat adalah satu babak, dilengkapi dengan petunjuk panggung dan petunjuk adegan. 4. Tulis naskah dramamu dalam kertas HVS 5. Kumpulkan naskah dramamu kepada guru untuk dinilai. Carilah naskah drama remaja, kemudian kemukakanlah bagian-bagian drama yang ada pada naskah yang kamu baca tersebut! Bagaimana dengan naskah drama yang kamu tulis? Naskah drama telah dilengkapi dengan petunjuk adegan, setting, bahkan pengaturan lampu, dans ebagainya. Naskah drama Latihan Latihan D . MEMBAHAS PEMENTASAN DRAMA
April12th, 2019 - Analisis Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel Salah Asuhan Abdoel Moeis 1 Latar Belakang Pemilihan Novel Salah Asuhan merupakan novel hasil karya Abdoel Moeis yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1928 dan termasuk ke dalam novel angkatan Balai Pustaka atau novel angkatan 20 30 an Di dalam
Diantara kamu pernah membaca novel. novel yang akan kita bahas kali ini adlaah novel Angkata 20-an dan 30-an. Novelnovel apa saja yang termasuk Angkatan 20-an? Dan novel apa saja yang termasuk Angkatan 30-an? Mari kita pelajari bersama. 1. Novel Angkatan 20-an Pernahkah kamu membaca novel-novel Angkatan 20-an? Angkatan 20-an sering disebut dengan Angkatan Balai Pustaka. Disebut dengan Angkatan Balai Pustaka karena Balai Pustaka adalah satu-satunya penerbit yang berperan dan berdiri pada pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1917. Karya sastra yang dihasilkan umumnya berupa roman dan novel. Karya-karya tersebut masih terpengaruh unsur-unsur sastra lama yang menjadi latar cerita. Unsur-unsur tersebut antara lain adat, kebiasaan, etika, dan bahasa. Contoh-contoh karya sastra lama Angkatan 20-an Novel Azab dan Sengsara a. Sitti Nurbaya, karya Marah Rusli, b. Sengsara Membawa Nikmat, karya Tulis Sutan Sati, c. Salah Asuhan, karya Abdul Muis, d. Azab dan Sengsara, karya Merari Siregar, e. dan sebagainya. 2. Novel Angkatan 30-an Angkatan 30-an Pujangga Baru merupakan angkatan yang berani menampilkan perubahan. Perubahan ini tercermin dalam tema-tema yang diangkat tidak lagi terpengaruh oleh budaya dan adat masyarakat lama. Tokoh yang menonjol dalam angkatan ini antara lain, Armin Pane, Amir Hamzah, dan Sutan Takdir Alisyahbana. Karya sastra yang menonjol pada saat itu adalah novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana. Contoh-contoh karya sastra Angkatan 30-an a. Anak Perawan di Sarang Penyamun karya Sutan Takdir Ali syahbana, b. Belenggu, karya Armin Pane, c. Dijemput Mamaknya, karya Hamka, d. I Swasta Setahun di Bedahulu, karya Pandji Trisna, e. Percobaan Setia, karya Suman 3. Mengidentifikasi Kebiasaan, Adat, dan Etika dalam Novel Angkatan 20 dan 30-an a. Adat Adat adalah suatu aturan/peraturan yang lazim diturut/ dilakukan sesuai dengan situasi dan waktu tertentu. Adat diartikan sebagai hukum tak tertulis sehingga bersifat mengikat masyarakat penggunanya. Adat inilah yang akan menentukan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Jika tokoh mematuhi adat yang berlaku, maka ia dianggap tokoh yang baik dan layak ditiru. Sebaliknya, jika ada tokoh yang menentang atau tidak taat adat biasanya akan dijauhi atau dihukum sesuai adat yang berlaku. b. Kebiasaan Kebiasaan merupakan budaya atau tradisi masyarakat yang turun-temurun dilakukan. Kebiasaan terkait latar belakang budaya dalam cerita. c. Etika Etika berkaitan dengan apa yang dianggap baik atau buruk, atau sopan-tidak sopan pada kebiasaan tokoh-tokoh ceritanya. Etika berkaitan dengan moral atau perilaku yang terpengaruh oleh adat dan kebiasaan. d. Bahasa Bahasa yang digunakan pada karya sastra Angkatan 20-an dipengaruhi oleh bahasa daerah. Penggunaan ungkapan dan perbandingan sebagai bentuk kiasan banyak dijumpai dalam karya sastra angkatan 20-an.
SinopsisNovel "Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)". Di daerah Padang, Sumatra Barat hiduplah seorang gadis cantik bernama Siti Nurbaya. Namun sejak kecil dia sudah menjadi piatu, Siti hanya tinggal bersama ayahnya, Baginda Sulaiman. Baginda Sulaiman adalah pedagang terkemuka di Padang.
Ciri-ciri Novel Angkatan 20/30-an MATERI LATIHAN KELAS 9A DAN 9B Ciri-cirinya a. Pleonasme menggunakan kata-kata yang berlebihan b. Bahasa terkesan kaku dan statis c. Bahasanya sangat santun Sekarang cobalah tentukan ciri dari kutipan beberapa novel berikut ini! Kutipan 1 . . . . dan ia hendak terus berlari-lari sekali kepada saudara-saudaranya memperagakan cokelat yang diperolehnya itu, . . . . Kutipan 2 “Suparno manis betul, bukan? Nanti Tante beri coklat.” . . . . Kutipan 3 Seraya menunjuk kepadanya, lahir dari kalbunya yang jernih itu ucapan yang tiada dibuat-buat, “Om No!” Kutipan 4 Suatu hari ketika matahari hendak masuk ke peraduannya, hawa panas bertukar mejadi agak sejuk, dan angin lemah lembut bertiup sepai-sepoi. Pohon kenari yang besar-besar dan tinggi kanan kiri jalan menggerakkan ranting dan daun-daunnya, udara pada waktu itu sedap dan nyaman rasanya. Kutipan 5 Di muka rumah tersebut di atas, berdiri seorang perempuan. Mukanya asam saja, tiada sabar rupanya. Kutipan 6 Perempuan itu ke luar membawa uang. Sebelum menguncikan pintu ia memandang dulu kepada anak yang sedang menangis itu, dengan membeliakkan mata, sambil berkata, “Tutup mulut! Kalau tidak . . . .” Kutipan 7 . . . berteriaklah ia minta tolong serta berkutat, hendak melepaskan diri dari tangan penjahat itu. Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.
የβኃհутኧфа տավαфቅֆօሬω ፖդθցуլуփ
ፋሡх υኸեφаባоЕ ыχевсογовι сታснασխма
Ըш τо ρቪтрօኅխνиπαቿևሾዉ ቸնሱጱωλеጧաղ խ
Нахозቡ ղюгиց чиՌኇքየճ πелጧчոвсу
Абοչе υбኟПውսεηተձоኸ з
MenerangkanSifat Sifat Tokoh Dari Kutipan Novel "Salah April 18th, 2019 - Setelah mendengarkan pembacaan kutipan novel di atas kalian dapat angkatan 45 pujangga baru balai pustaka dan lain lain Yang mau baca silahkan download April 20th, 2019 - Salah Asuhan adalah sebuah film Indonesia dirilis tahun 1972 yang

Judul novel angkatan 20 dan 30 Karya Marah Roesli Nurbaya. Jakarta Balai Pustaka. 1920 mendapat hadiah dari Pemerintah RI tahun 1969. Hami. Jakarta Balai Pustaka. 1924. dan Kemenakan. Jakarta Balai Pustaka. 1956. 4. Memang Jodoh naskah roman dan otobiografis 5. Tesna Zahera naskah Roman 6. Terjemahannya Gadis yang Malang novel Charles Dickens, 1922. Karya Abdul Muis 1. Salah Asuhannovel, 1928, difilmkan Asrul Sani, 1972 2. Pertemuan Jodoh novel, 1933 3. Surapati novel, 1950 4. Robert Anak Surapatinovel, 1953 Karya Tulis Sutan Sati 1. Tak Disangka 1923 2. Sengsara Membawa Nikmat 1928 3. Syair Rosina 1933 4. Tjerita Si Umbut Muda 1935 5. Tidak Membalas Guna 6. Memutuskan Pertalian 1978 7. Sabai nan Aluih cerita Minangkabau lama 1954 Karya Sumam Hasibuan 1. “Pertjobaan Setia” 1940 2.“ Mentjari Pentjuri Anak Perawan” 1957 3. “Kasih Ta’ Terlarai” 1961 4. Kawan Bergelut” kumpulan cerpen 5. “Tebusan Darah“ Karya Haji Abdul Malik Karim 1. Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab. 2. Si Sabariah. 1928 3. Pembela Islam Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq,1929. 4. Adat Minangkabau dan agama Islam 1929. 5. Ringkasan tarikh Ummat Islam 1929. 6. Kepentingan melakukan tabligh 1929. 7. Hikmat Isra’ dan Mikraj. 8. Arkanul Islam 1932 di Makassar. 9. Laila Majnun 1932 Balai Pustaka. 10. Majallah Tentera’ 4 nomor 1932, di Makassar. 11. Majallah Al-Mahdi 9 nomor 1932 di Makassar. 12. Mati mengandung malu Salinan Al-Manfaluthi 1934. 13. Di Bawah Lindungan Ka’bah 1936 Pedoman Masyarakat,Balai Pustaka. Hello world ^^ i'm just a girl from Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia who loves reading, eating and writing. If you wanna know me more, just follow and mention me at Ig sriayuu23 ^^ View All Posts

21 Judul-Judul Pengarang Novel Angkatan 20-30an. Ciri-ciri karya 20-an (Angkatan Balai Pustaka) 1. Menggambarkan tema pertentangan paham antara kaum tua dan kaum muda, soal pertentangan adat, soal kawin paksa, permaduan, dlll. 2.
Hasil Identifikasi Novel Angkatan 20-30 Ciri lainnya bahwa novel tahun 1920-1930an banyak yang menggunakan bahasa percakapan sehari-hari. Hal ini berbeda dengan karya-karya pada periode sebelumnya yang bahasanya itu lebih kaku. Perhatikan kutipan seperti berikut. Hanafi menyesali dirinya tidak berhingga-hingga. Maka ditutupnyalah mukanya dengan kedua belah tangannya. Lalu menangis mengisak-isak sambil berseru dalam hatinya “Oh, Corrie, Corrie istriku! Di manakah engkau sekarang? Lihatlah suamimu menyadari untung, lekaslah kembali, supaya kita menyambung hidup kemabli seperti dulu” Salah Asuhan, Abdul Muis, 1928 Bahasa percakapan sehari-hari dalam cuplikan di atas, antara lain tampak pada perkataan tokoh Hanafi. Kata-kata tersebut merupakan ragam bahasa percakapan. Hal ini terutama pada kata seru oh yang sampai sekarang pun kita sering menggunakannya ketika bercakap-cakap Maka dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri novel angkatan 20-30an adalah sebagai berikut Tema permasalahan adat, romantisme, kawin paksa Pengarang berlatar belakang Minangkabau Bahasa bersifat klise, percakapan sehari-hari Hasil Identifikasi Novel angkatan 20-30an 1. Novel pada angkatan 20an a. Menggunakan bahasa Indonesia yang masih terpengaruh Melayu b. Persoalan yang diangkat persoalan adat kedaerahan dan kawin paksa c. Dipengaruhi kehidupan tradisi sastra daerah/local d. Cerita yang diangkat seputar romantisme e. Soal kebangsaan belum mengemuka, masih bersifat kedaerahan f. Gaya bahasa masih menggunakan perumpunan yang klise, pepatah, pribahasa g. Alirannya bercorak romantic h. Masih adanya adat-adat Melayu 2. Novel pada angkatan 30an a. Sudah menggunakan bahasa Indonesia b. Menceritakan kehidupan masyarakat kota, persoalan intelektual, emansipasi struktur cerita/konflik sudah berkembang c. Pengaruh budaya barat mulai masuk dan berupaya melahirkan budaya Nasional d. Menonjolkan nasionalisme, romantisme, individualism, dan materialisme AZAB DAN SENGSARA MERARI SIREGAR Di kota Siporok, hidup seorang bangsawan kaya raya yg memiliki seorang anak laki-laki dan seorang perempuan yg perempuan tdk dijelaskan lbh lanjut oleh pengarangnya. Anaknya yg laki2 bernama Sutan Baringin. Dia sangat dimanja oleh ibunya. Segala kehendaknya selalu dituruti dan segala kesalahannya pun selalu dibela ibunya. Akibatnya, setelah dewasa, Baringin tumbuh menjadi seorang pemuda yg angkuh, berperangai jelek, serta suka berfoya-foya. Oleh kedua orangtuanya, Sutan Baringin dinikahkan dengan Nuria, seorang perempuan baik-baik pilihan ibunya. Walaupun telah berkeluarga, Sutan Baringin masih tetap suka berfoya-foya menghabiskan harta benda kedua orangtuanya. Dia berjudi dg Marah Said, seorang prokol bambu sahabat karibnya. Sewaktu ayahnya meninggal, sifat Sutan Baringin semakin menjadi, maskin suka berfoya-foya menghabiskan harta warisan orangtuanya. Akhirnya, dia bangkrut dan utangnya sangat banyak. Dari perkawinannya dengan Nuria, Sutan Baringin mempunyai dua orang anak. Yang satu perempuan bernama Mariamin, sedangkan yg satunya lagi laki-laki yg laki2 tidak diceritakan pengarang. Akibat tingkah laku ayahnya, Mariamin selalu dihina oleh warga kampungnya akibat kemiskinan orangtuanya. Cinta kasih perempuan yg berbudi luhur ini dengan pemuda bernama Aminuddin terhalang oleh dinding kemiskinan orangtuanya. Aminuddin adalah anak Bagianda Diatas, yaitu seorang bangsawan kaya-raya yg sangat disegani di daerah Siporok. Sebenarnya Baginda Diatas masih mempunyai hubungan sepupu dengan Sutan Baringin, ayah Mariamin. Ayah Baginda keduanya adalah kakak beradik. Sejak kecil, Aminuddin bersahabat dg Mariamin. Setelah keduanya beranjak dewasa, mereka saling jatuh hati. Aminuddin sangat mencintai Mariamin. Dia berjanji untuk melamar Mariamin bila dia telah mendapatkan pekerjaan. Keadaan Mariamin yg miskin tidak menjadi masalah bagi Aminuddin. Aminuddin memberitahukan niatnya utk menikahi Mariamin kepada kedua orangtuanya. Ibunya tidak merasa keberatan dengan niat tersebut. Dia benar2 mengenal pula keluarganya. Keluarga Mariamin masih keluarga mereka juga sebab ayah Baginda Diatas, suami ibu Aminuddin, dengan Sutan Baringin, ayah Mariamin, adalah kakak beradik. Selain itu, dia juga merasa iba terhadap keluarga Mariamin yg miskin. Bila menikah dg anaknya, dia mengharapkan agar keadaan ekonomi Mariamin bisa terangkat lagi. Ayah Aminuddin, Baginda Diatas, tidak setuju dg niat anaknya menikahi Mariamin. Jika pernikahan itu terjadi, dia merasa malu sebab dia merupakan keluarga terpandang dan kaya-raya, sedangkan keluarga Mariamin hanya keluarga miskin. Namun, ketidaksetujuannya tsb tidak diperlihatkan kepada istri dan anaknya. Dengan cara halus, Baginda Diatas berusaha menggagalkan pernikahan anaknya. Salah satu usahanya adalah mengajak istrinya menemui seorang peramal. Sebelumnya dia telah menitipkan pesan kepada peramal agar memberikan jawaban yg merugikan pihak Mariamin. Jelasnya, sang peramal memberikan jawaban bahwa Aminuddin tidak akan beruntung jika menikah dg Mariamin. Setelah mendengar jawaban dr peramal tersebut, ibu Aminuddin tdk bs berbuat banyak. Dg terpaksa, dia menuruti kehendak suaminya utk menvarikan jodoh yg sesuai utk Aminuddin. Mereka langsung melamar seorang perempuan dari keluarga berada. Oleh karena Aminuddin sedang berada di Medan, mencari pekerjaan, Baginda Diatas mengirim telegram yg isinya meminta Aminuddin menjemput calon istri dan keluarganya di stasiun kereta api Medan. Menerima telegram tsb, Aminuddin mersasa sangat gembira. Dlm hatinya telah terbayang wajah Mariamin. Ia mengira bahwa calon istri yg akan dia jemput adalah Mariamin. Namun setelah mengetahui bahwa calon istrinya itu bukanlah Mariamin, hatinya menjadi hancur. Tapi sebagai anak yg berbakti terhadap orangtuanya, dengan terpaksa ia menikahi perempuan pilihan orangtuanya itu. Aminuddin segera memberitahukan kenyataan itu kepada Mariamin. Mendengar berita itu, Mariamin sangat sedih dan menderita. Dia langsung pingsan tak sadarkan diri. Tak lama kemudian, dia pun jatuh sakit. Stahun setelah kejadian itu, Mariamindan ibunya terpaksa menerima lamaran Kasibun, seorang kerani di Medan. Pada waktu itu, Kasibun mengaku belum mempunyai istri. Mariamin pun akhirnya diboyong ke Medan. Sesampainya di Medan, terbuktilah siapa sebenarnya Kasibun. Dia hanyalah seorang lelaki hidung belang. Sebelum menikah dg Mariamin, dia telah mempunyai istri, yg dia ceraikan karena hendak menikah dg Mariamin. Hati Mariamin sangat terpukul mengetahui kenyataan itu. Namun, sebagai istri yg taat beragama, walaupun dia membenci dan tidak mencintai suaminya, dia tetap berbakti kepada suaminya. Perlakuan kasar Kasibun terhadap Mariamin semakin menjadi setelah Aminuddin mengunjungi rumah mereka. Dia sangat cemburu pada Aminuddin. Menurutnya, penyambutan istrinya terhadap Aminuddin sangat di luar batas. Padahal, Mariamin menyambut Aminuddin dg cara yg wajar. Namun, karena cemburunya yg sangat berlebihan, Kasibun menganggap Mariamin telah memperlakukan Aminuddin secara berlebih-lebihan. Akibatnya, dia terus-menerus menyiksa Mariamin. Mencintai kok menyiksa, ya? Perlakuan Kasibun yg kasar kepadanya, membuat Mariamin hilang kesabaran. Dia tidak tahan lagi hidup menderita serta disiksa setiap hari. Akhirnya, dia melaporkan perbuatan suaminya kepada kepolisian Medan. Dia langsung meminta cerai. Permintaan cerainya dikabulkan oleh pengadilan agama di Padang. Setelah resmi bercerai dg Kasibun, dia kembali ke kampung halamnannya dengan penuh kehancuran. Hancurlah jiwa dan raganya. Kesengsaraan dan penderitaan secara batin maupun fisiknya terus mendera dirinya dari kecil hingga dia meninggal dunia. Sungguh tragis nasibnya. AZAB DAN SENGSARA Merari Siregar Etika 1. Suami kadang menyiksa istri Bukti kutipan “Akibatnya, dia terus-menerus menyiksa Mariamin. Mencintai kok menyiksa, ya? 2. Anak patuh terhadap orangtuanya, walaupun keinginan orangtuanya tidak sesuai dengan keinginannya. Bukti kutipan “Tapi sebagai anak yg berbakti terhadap orangtuanya, dengan terpaksa ia menikahi perempuan pilihan orangtuanya itu. Aminuddin segera memberitahukan kenyataan itu kepada Mariamin.” 3. Percintaan masih dipandang dari harta. Bukti kutipan “Jika pernikahan itu terjadi, dia merasa malu sebab dia merupakan keluarga terpandang dan kaya-raya, sedangkan keluarga Mariamin hanya keluarga miskin.” Adat 1. Masih percaya pada takhayul atau animisme dan dinamisme. Bukti kutipan “Dengan cara halus, Baginda Diatas berusaha menggagalkan pernikahan anaknya. Salah satu usahanya adalah mengajak istrinya menemui seorang peramal. Sebelumnya dia telah menitipkan pesan kepada peramal agar memberikan jawaban yg merugikan pihak Mariamin.” 2. Pernikahan masih menggunakan sistem perjodohan. Bukti kutipan “Dengan terpaksa, dia menuruti kehendak suaminya utk menvarikan jodoh yg sesuai utk Aminuddin. Mereka langsung melamar seorang perempuan dari keluarga berada.” Kebiasaan 1. Telekomunkasi jarak jauh masih menggunakan surat atau telegram. Bukti kutipan “Menerima telegram tsb, Aminuddin mersasa sangat gembira. Dlm hatinya telah terbayang wajah Mariamin.” 2. Anak laki-laki biasanya pergi merantau untuk mencari pekerjaan. Bukti kutipan “Oleh karena Aminuddin sedang berada di Medan.” 3. Pernikahan dipandang dari bibit, bebet, dan bobot. Bukti kutipan “Jika pernikahan itu terjadi, dia merasa malu sebab dia merupakan keluarga terpandang dan kaya-raya, sedangkan keluarga Mariamin hanya keluarga miskin.” SENGSARA MEMBAWA NIKMAT TULIS SUTAN SATI Seorang pemuda bernama Kacak, karena merasa Mamaknya adalah seorang Kepala Desa yang dikuti, selalu bertingkah angkuh dan sombong. Dia suka ingin menang sendiri. Kacak paling tidak senang melihat orang bahagia atau yang melebihi dirinya. Kacak kurang disukai orang-orang kampungnya karena sifatnya yang demikian. Beda dengan Midun, walaupun anak orang miskin, namun sangat disukai oleh orang-orang kampungnya. Sebab Midun mempunyai perangai yang baik, sopan, taat agama, ramah serta pintar silat. Midun tidak sombong seperti Kacak. Karena Midun banyak disukai orang, maka Kacak begitu iri dan dengki pada Midun. Kacak sangat benci pada Midun. Sering dia mencari kesempatan untuk bisa mencelakakan Midun, namun tidak pernah berhasil. Dia sering mencari gara-gara agar Midun marah padanya, namun Midun tak pernah mau menanggapinya. Midun selalu menghindar ketika diajak Kacak untuk berkelahi. Midun bukan takut kalah dalam berkelahi dengan Kacak, karena dia tidak senang berkelahi saja. Ilmu silat yang dia miliki dari hasil belajarnya pada Haji Abbas bukan untuk dipergunakan berkelahi dan mencari musuh tapi untuk membela diri dan mencari teman. Suatu hari istri Kacak terjatuh dalam sungai. Dia hampir lenyap dibawa arus. Untung waktu itu Midun sedang berada dekat tempat kejadian itu. Midun dengan sigap menolong istri Kacak itu. Istri Kacak selamat berkat pertolongan Midun. Kacak malah balik menuduh Midun bahwa Midun hendak memperkosa istrinya. Air susu dibalas dengan air tuba. Begitulah Kacak berterima kasih pada Midun. Waktu itu Midun menanggapi tantangan itu. Dalam perkelahian itu Midun yang menang. Karena kalah, Kacak menjadi semakin marah pada Midun. Kacak melaporkan semuanya pada Tuanku Laras. Kacak memfitnah Midun waktu itu, rupanya Tuanku Laras percaya dengan tuduhan Kacak itu. Midun mendapat hukuman dari Tuanku Laras. Midun diganjar hukuman oleh Tuanku Laras, yaitu harus bekerja di rumah Tuanku Laras tanpa mendapat gaji. Sedangkan orang yang ditugaskan oleh Tuanku Laras untuk mengwasi Midun selama menjalani hukuman itu adalah Kacak. Mendapat tugas itu, Kacak demikian bahagia. Kacak memanfaatkan untuk menyiksa Midun. Hampir tiap hari Midun diperlakukan secara kasar. Pukulan dan tendangan Kacak hampir tiap hari menghantam Midun. Juga segala macam kata-kata hinaan dari Kacak tiap hari mampir di telinga Midun. Namun semua perlakuan itu Midun terima dengan penuh kepasrahan. Walaupun Midun telah mendapat hukuman dari Mamaknya itu, namun Kacak rupanya belum puas juga. Dia belum puas sebab Midun masih dengan bebas berkeliaran di kampung utu. Dia tidak rela dan ikhlas kalau Midun masih berada di kampung itu. Kalau Midun masih berada di kampung mereka, itu berarti masih menjadi semacam penghalang utama bagi Kacak untuk bisa berbuat seenaknya di kampung itu. Untuk itulah dia hendak melenyapkan Midun dari kampung mereka untuk selama-lamanya. Untuk melaksanakan niatnya itu, Kacak membayar beberapa orang pembunuh bayaran untuk melenyapkan Midun. Usaha untuk melenyapkan Midun itu mereka laksanakan ketika di kampung itu diadakan suatu perlombaan kuda. Sewaktu Midun dan Maun sedang membeli makanan di warung kopi di pinggir gelanggang pacuan kuda itu, orang-orang sewaan Kacak itu menyerang Midun dengan sebelah Midun pisau. Tapi untung Midun berhasil mengelaknya. Namun perkelahian antar mereka tidak bisa dihindari. Maka terjadilah keributan di dalam acar pacuan kuda itu. Perkelahian itu berhenti ketika polisi datang. Midun dan Maun langsung ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Setelah diperiksa, Maun dibebaskan. Sedangkan Midun dinyatakan bersalah dan wajib mendekam dalam penjara. Mendengar kabar itu, waduuh betapa senangnya hati Kacak. Dengan Midun masuk penjara, maka dia bisa dengan bebas berbuat di kampung itu tanpa ada orang yang berani menjadi penghalangnya. Selama di penjara itu, Midun mengalami berbagai siksaan. Dia di siksa oleh Para sipir penjara ataupun oleh Para tahanan yang ada dalam penjara itu. Para tahanan itu baru tidak berani mengganggu Midun ketika Midun suatu hari ber¬hasil mengalahkan si jago Para tahanan. Karena yang paling dianggap jago oleh Para tahanan itu kalah, mereka kemudian pada takut dengan Midun. Midun sejak itu sangat dihormati oleh para tahanan lainnya. Midun menjadi sahabat mereka. Suatu hari, ketika Midun sedang bertugas menyapu jalan, Midun Melihat seorang wanita cantik sedang duduk duduk melamun di bawah pohon kenari. Ketika gadis itu pergi, ternyata kalung yang dikenakan gadis itu tertinggal di bawah pohon itu. Kalung itu kemudian dikembalikan oleh Midun ke rumah si gadis. Betapa senang hati gadis itu. Gadis itu sampai jatuh hati sama Midun. Midun juga temyata jatuh hati juga sama si gadis. Nama gadis itu adalah Halimah. Setelah pertemuan itu, mereka berdua saling bertemu dekat jalan dulu itu. Mereka saling cerita pengalaman hidup, Halimah bercerita bahwa dia tinggal dengan seorang ayah tiri. Dia merasa tidak bebas tinggal dengan ayah tirinya. Dia hendak pergi dari rumah. Dia sangat mengharapkan suatu saat dia bisa tinggal dengan ayahnya yang waktu itu tinggal di Bogor. Keluar dari penjara, Midun membawa lari Halimah dari rumah ayah tirinya itu. Usaha Midun itu dibantu oleh Pak Karto seorang sipir penjara yang baik hati. Midun membawa Halimah ke Bogor ke rumah orang tua Halimah. Ayah Halimah orangnya baik. Dia sangat senang kalau Midun bersedia tinggal bersama mereka. Kurang lebih dua bulan Midun bersama ayah Halimah. Midun merasa tidak enak selama tinggal dengan keluarga Halimah itu hanya tinggal makan minum saja. Dia mulai hendak mencari penghasilan. Dia kemudian pergi ke Jakarta mencari kerja. Dalam Perjalanan ke Jakarta. Midun berkenalan dengan saudagar kaya keturunan arab. Nama saudagar ini sebenarnya seorang rentenir. Dengan tanpa pikiran yang jelek-jelek, Midun mau menerima uang pinjaman Syehk itu. Sesuai dengan saran Syehk itu, Midun membuka usaha dagang di Jakarta. Usaha Midun makin lama makin besar. Usahanya maju pesat. Melihat kemajuan usaha dagang yang dijalani Midun, rupanya membuat Syehk Abdullah Al-Hadramut iri hati. Dia menagih hutangnya Midun dengan jumlah yang jauh sekali dari jumlah pinjaman Midun. Tentu saja Midun tidak bersedia membayarnya dengan jumlah yang berlipat lipat itu. Setelah gagal mendesak Midun dengan cara demikian, rupanya Syehk menagih dengan cara lain. Dia bersedia uangnya tidak di¬bayar atau dianggap lunas, asal Midun bersedia menyerahkan Halimah untuk dia jadikan sebagai istrinya. Jelas tawaran itu membuat Midun marah besar pada Syehk . Halimah juga sangat marah pada Syehk. Karena gagal lagi akhirnya Syehk mengajukan Midun ke meja hijau. Midun diadili dengan tuntutan hutang. Dalam persidangan itu Midun dinyatakan bersalah oleh pihak pengadilan. Midun masuk penjara lagi. Di hari Midun bebas itu, Midun jalan jalan dulu ke Pasar Baru. Sampai di pasar itu, tiba tiba Midun melihat suatu keributan. Ada seorang pribumi sedang mengamuk menyerang seorang Sinyo Belanda. Tanpa pikir panjang Midun yang suka menolong_orang itu, langsung menyelamatkan Si Sinyo Sinyo Belanda itu sangat berterima kasih pada Midun yang telah menyelamatkan nyawanya itu. Oleh Sinyo Belanda itu, Midun kemudian diperkenalkan kepada orang tua Sinyo itu. Orang tua Sinyo Belanda itu ternyata seorang Kepala Komisaris, yang dikenal sebagai Tuan Hoofdcommissaris. Sebagai ucapan terima kasihnya pada Midun yang telah menyelamatkan anaknya itu, Midun langsung diberinya pekerjaan. Pekerjaan Midun sebagai seorang juru Tulis. Setelah mendapat pekerjaan itu, Midun pun melamar Halimah. Dan mereka pun menikah di Bogor di rumah orang tua Halimah. Prestasi kerja Midun begitu baik di mata pimpinannya. Midun kemudian diangkat menjadi Kepala Mantri Polisi di Tanjung Priok. Dia langsung ditu¬gaskan menumpas para penyeludup di Medan. Selama di Medan itu, Midun, bertemu dengan adiknya, yaitu Manjau. Manjau bercerita banyak tentang kampung halamannya. Midun begitu sedih rnendengar kabar keluarganya di kampung yang hidup menderita. Oleh karena itu ketika dia pulang ke Jakarta, Midun langsung minta ditugaskan di Kampung halamannya. Permintaan Midun itu dipenuhi oleh pimpinannya. Kepulangan Midun ke kampung halamannya itu membuat Kacak sangat gelisah. Kacak waktu itu sudah menjadi penghulu di kampung rnereka. Kacak menjadi gelisah sebab dia takut perbuatannya yang telah menggelap¬kan kas negara itu akan terbongkar. Dan dia yakin Midun akan berhasil rnembongkar perbuatan jeleknya itu. Tidak, lama kemudian, memang Kacak ditangkap. Dia terbukti telah menggelapkan uang kas negara yang ada di desa mereka. Akibatnya Kacak masuk penjara atas perbuatannva itu. Sedangkan Midun hidup berbahagia bersama istri dan seluruh keluarga¬nya di kampung. SENGSARA MEMBAWA NIKMAT Tulis Sutan Sati Kebiasaan 1. Masih zaman penjajahan Belanda Bukti kutipan “Orang tua Sinyo Belanda itu ternyata seorang Kepala Komisaris, yang dikenal sebagai Tuan Hoofdcommissaris.” 2. Hampir semua pemuda di daerah tersebut mengenal ilmu bela diri Bukti kutipan “Ilmu silat yang dia miliki dari hasil belajarnya pada Haji Abbas bukan untuk dipergunakan berkelahi dan mencari musuh tapi untuk membela diri dan mencari teman.” Etika 1. Kehidupannya bergotong royong Bukti kutipan “Midun dengan sigap menolong istri Kacak itu. Istri Kacak selamat berkat pertolongan Midun.” 2. Yang berkuasa sering semena-mena, bahkan berbuat kejam Bukti kutipan “Hampir tiap hari Midun diperlakukan secara kasar. Pukulan dan tendangan Kacak hampir tiap hari menghantam Midun. Juga segala macam kata-kata hinaan dari Kacak tiap hari mampir di telinga Midun. Namun semua perlakuan itu Midun terima dengan penuh kepasrahan.” Adat 1. Aturan adat sangat ketat, bagi yang melanggar akan menerima akibatnya Bukti kutipan “Dia terbukti telah menggelapkan uang kas negara yang ada di desa mereka. Akibatnya Kacak masuk penjara atas perbuatannva itu.” 2. Pulang kampung untuk menjenguk keluarga Bukti kutipan “Midun begitu sedih rnendengar kabar keluarganya di kampung yang hidup menderita. Oleh karena itu ketika dia pulang ke Jakarta, Midun langsung minta ditugaskan di Kampung halamannya.” SITI NURBAYA Marah Roesli Ibunya meninggal saat Siti Nurbaya masih kanak-kanak, maka bisa dikatakan itulah titik awal penderitaan hidupnya. Sejak saat itu hingga dewasa dan mengerti cinta ia hanya hidup bersama Baginda Sulaiman, ayah yang sangat disayanginya. Ayahnya adalah seorang pedagang yang terkemuka di kota Padang. Sebagian modal usahanya merupakan uang pinjaman dari seorang rentenir bernama Datuk mulanya usaha perdagangan Baginda Sulaiman mendapat kemajuan pesat. Hal dikehendaki oleh rentenir seperti Datuk Maringgih. Maka untuk melampiaskan keserakahannya Datuk Maringgih menyuruh kaki tangannya membakar semua kios milikBaginda Sulaiman. Dengan demikian hancurlah usaha Baginda Sulaiman. Ia jatuh miskin dantak sanggup membayar hutang-hutangnya pada Datuk Maringgih. Dan inilah kesempatanyang dinanti-nantikannya. Datuk Maringgih mendesak Baginda Sulaiman yang sudah takberdaya agar melunasi semua hutangnya. Boleh hutang tersebut dapat dianggap lunas,asalkan Baginda Sulaiman mau menyerahkan Siti Nurbaya, puterinya, kepada kenyataan seperti itu Baginda Sulaiman yang memang sudah tak sanggup lagimembayar hutang-hutangnya tidak menemukan pilihan lain selain yang ditawarkan olehDatuk Nurbaya menangis menghadapi kenyataan bahwa dirinya yang cantik dan muda beliaharus menikah dengan Datuk Maringgih yang tua bangka dan berkulit kasar seprti kulitkatak. Lebih sedih lagi ketika ia teringat Samsulbahri, kekasihnya yang sedang sekolah distovia, Jakarta. Sungguh berat memang, namun demi keselamatan dan kebahagiaanayahandanya ia mau mengorbankan kehormatan dirinya yang berada di Jakata mengetahui peristiwa yang terjadi di desanya, terlebihkarena Siti Nurbaya mengirimkan surat yang menceritakan tentang nasib yang suatu hari ketika Samsulbahri dalam liburan kembali ke Padang, ia dapat bertemuempat mata dengan Siti Nurbaya yang telah resmi menjadi istri Datuk Maringgih. Pertemuanitu diketahui oleh Datuk Maringgih sehingga terjadi keributan. Teriakan Siti Nurbayaterdengar oleh ayahnya yang tengah terbaring karena sakit keras. Baginda Sulaimanberusaha bangkit, tetapi akhirnya jatuh tersungkur dan menghembuskan nafas itu, ayah Samsulbahri yaitu Sultan Mahmud yang kebetulan menjadipenghulu kota Padang, malu atas perbuatan anaknya. Sehingga Samsulbahri harus kembalike Jakarta dan ia benrjanji untuk tidak kembali lagi kepada keluargannya di Padang. DatukMaringgih juga tidak tinggal diam, karena Siti Nurbaya Nurbaya yang mendengar bahwa kekasihnya diusir orang tuanya, timbul niatnyauntuk pergi menyusul Samsulbahri ke Jakarta. Tetapi niatnya itu diketahui oleh kaki tanganDatuk Maringih. Karena itu dengan siasat dan fitnahnya, Datuk Maringgih dengan bantuankaki tangannya dapat memaksa Siti Nurbaya kembali dengan perantaraan polisi. Tak lama kemudian Siti Nurbaya meninggal dunia karena memakan lemang beracunyang sengaja diberikan oleh kaki tangan Datuk Maringgih. Kematian Siti Nurbaya ituterdengar oleh Samsulbahri sehingga ia menjadi putus asa dan mencoba melakukan bunuhdiri. Akan tetapi mujurlah karena ia tak meninggal. Sejak saat itu Samsulbahri tidakmeneruskan sekolahnya dan memasuki dinas tahun kemudian, dikisahkan dikota Padang sering terjadi huru-hara dantindak kejahatan akibat ulah Datuk Maringgih dan orang-orangnya. Samsulbahri yang telahberpangkat Letnan dikirim untuk melakukan pengamanan. Samsulbahri yang mengubahnamanya menjadi Letnan Mas segera menyerbu kota Padang. Ketika bertemu dengan DatukMaringgih dalam suatu keributan tanpa berpikir panjang lagi Samsulbahri Maringgih jatuh tersungkur, namun sebelum tewas ia sempat membacok kepalaSamsulbahri dengan alias Letnan Mas segera dilarikan ke rumah sakit. Pada saat-saatterakhir menjelang ajalnya, ia meminta dipertemukan dengan ayahandanya. Tetapi ajallebih dulu merenggut sebelum Samsulbahri sempat bertemu dengan orangtuanya. SITI NURBAYA Marah Rusli Kebiasaan 1. Ia terbiasa memakai topi putih yang seringkali dipakai bangsa Belanda. Bukti kutipan "Topinya topi rumput putih yang biasa dipakai bangsa belanda" 2. Seorang gadis yang selalu mengenakan gaun terbuat dari kain batis dengan motif kembang-kembang berwarna merah jambu. Bukti kutipan "Gaunnya baju nona-nona terbuat dari kain batis yang berkembang merah jambu" 3. Orang zaman dahulu merokok dengan cara yang berbeda dengan orang-orang zaman sekarang. Bukti kutipan "Dekat putri ini duduk saudaranya yang bungsu, Sutan Hamzah sedang menggulung rokok dengan daun nipah." 4. Orang padang saat berbicara seringkali menggunakan peribahasa yang penuh arti. Bukti kutipan "Akan tetapi sebab ia seorang yang 'pandai hidup' sebagai kata peribahasa Melayu, selalulah rupanya seperti orang yang tak pernah kekuranagan” 5. Seorang istri di masyarakat padang merupakan hamba dari laki-laki dan laki-laki itu adalah tuannya perempuan. Bukti kutipan "Bukankah laki-laki itu tuan perempuan dan perempuan itu hamba laki-laki? Tentu saja mereka boleh berbuat sekehendak hatinya kepada kita; disiksa, dipukul, dan didera dengan tiada diberi belanja yang cukup dan rumah tangga yang baik." Adat 1. Jika akan melaksanakan proses perdukunan, hendaklah harus menyiapkan syarat-syaratnya. Bukti kutipan "Baiklah... Hamba mohon perasapan dan kemenyan serta air bersih secambung dan sirih kuning tujuh lembar." 2. Di Padang, pernikahan dipandang sebagai perniagaan, laki-laki dibeli oleh perempuan, karna perempuan memberi uang kepada laki-laki. Bukti kutipan "Perkawinan itu dipandang sebagai perniagaan, disini laki-laki dibeli oleh perempuan" 3. Di gunung Padang terdapat banyak kuburan, dan pada moment tertentu, tempat itu ramai dikunjungi pendatang yang ingin mendoakan arwah yang telah pergi. Bukti kutipan " Memang digunung itu banyak kuburan, sedang dipuncaknya adalah sebuah makam, didalam suatu gua batu, tempat yang berkaul dan bernazar. Sekali setahun, saat-saat akan masuk puasa pada waktu hari raya, penuhlah gunung itu dengan penziarah..." 4. Orang besar, penhulu/orang berpangkat tinggi yang memiliki istri lebih dari 1 sudah banyak, sebab itulah adat di Padang, sebab dengan memiliki banyak istri, itu berarti dia meiliki banyak keturunan. Bukti kutipan "Sekalian penghulu di Padang ini beristeri 2,3, sampai 4 orang. Bukankah harus orang besar itu beristri banyak?" 5. Saat ingin makan, sebelumnya harus menyiapkan makan terlebih dahulu dan bersikap seperti ada yang sudah ada. Bukti kutipan ".... menyediakan makanan diatas tikar rumput yang telah dialas dengan kain putih, terbentang di tengah rumah. Beberapa lama kemudian, duduklah Ahmad Maulana makan dihadapi istrinya, sedang Alimah & Nurbaya duduk jauh sedikit dari sana...." Etika 1. Janganlah kamu bersenang-senang diatas penderitaan orang lain. Bukti kutipan "Tatkala ayahku telah jatuh miskin, pura-pura kau tolong Ia dengan meminjamkan uang kepadanya, tetapi maksudmu yang sebenarnya hendak menjerumuskannya ke jurang yang terlebih dalam, karena hatimu terlebih bengis daripada setan itu, belum puas lagi." 2. Apabila ada tamu yang datang hendaknya kita menyediakan minuman dan makanan kecil. Bukti kutipan "Sementara itu segala kue-kue yang lezat rasanya, diedarkanlah, dibawa kepada sekalian tamu. Demikian pula minum-minuman..." 3. Sebagai anak muda, hendaklah kita menghormati dan menghargai orang yang lebih tua. Bukti kutipan "Ah jangan Sam. Kasihanilah orang tua itu! Karena ia bukan baru sehari dua hari bekerja pada ayahmu. melainkan telah bertahun-tahun. Dan belum ada ia berbuat kesalahan apa-apa." 4. Jika sedang bermain dengan teman, sebaiknya kita menjaga tingkah laku. Bukti kutipan "Baiklah, tetapi hati-hati engkau menjaga dirimu dan si Nurbaya! Janganlah engkau berlaku yang tiada senonoh!" 5. Jika orang tua kita sedang berbincang dengan tamu, dan kita tidak berkepentingan, sebaiknya kita masuk dan tidak perlu mendengarkan pembicaraan mereka. Bukti kutipan "Kemudian masuklah ia kedalam biliknya. Rupanya ia mengerti bahwa orangtuanya itu sedang memperbnincangkan hal yang tak boleh didengarnya."
JudulNovel Tahun 30-an (Pujangga Baru) Ciri-ciri Angkatan 30-an (Pujangga Baru) 1. Menggambarkan pertentangan kehidupan orang-orang kota, soal emansipasi wanita. 2. Hasil karyanya mulai bercorak kebangsaan; memuat soal kebangunan bangsa. 3. Gaya bahasanya sudah tidak menggunakan perumpamaan klise, pepatah, peribahasa. 4.
Home » ringkasan » Karakteristik Novel Angkatan 20/30-an Artikel Terbaru loading... Karakteristik Novel Angkatan 20/30-an- Karakteristiknyaa. Tema berkisar masalah adat dan kawin paksab. Isinya kebanyakan mengkritik keburukan adat lama dalam soal Tokoh-tokohnya diceritakan sejak muda hingga meninggal duniad. Konflik yang dialami para tokoh kebanyakan disebabkan perselisihan dalam memilih nilai kehidupan barat dan timure. Pleonasme menggunakan kata-kata yang berlebihanf. Bahasa terkesan kaku dan statisg. Bahasanya sangat santunh. Para penulisnya kebanyakan berasal dari Pulau SumateraSinopsis beberapa novel Angkatan 20/30-an Novel Salah Asuhan Novel Layar Terkembang Novel Dian yang Tak Kunjung Padam Novel Sitti Nurbaya Novel Azab dan Sengsara Diposkan oleh Yadi Karnadi di Rabu, 04 Desember 2013
kumpulansinopsis angkatan 20-30an. SITI NURBAYA. MARAH RUSLI. Baginda Sulaiman. Berkat pinjangan uang dari Datuk Maringgih tersebut, usaha dagang Baginda maju pesat. yang layar terkembang itu, 20-an atau 30-an yaa? Reply Delete. Unknown 26 February 2015 at 17:55. Terima kasih:) bermanfaat sekali. Reply Delete. Ozan Nax CWG 78 2 March 2015 20-30-an Tujuan pembelajaran Setelah mempelajari materi pada subbab ini, kamu diharap dapat membandingkan karakteristik novel angkatan 20-30an. Pada Pelajaran 5 kamu telah mengidentifikasi novel Angkatan 20-30. Pertemuan ini kita kembali membandingkan karakteristik novel angkatan ini. Angkatan Balai Pustaka adalah nama kelompok sastrawan yang karya-karyanya berdasarkan ciri-ciri sebagai berikut. 1. Didominasi sifat-sifat kemelayuan dalam bahasanya. 2. Adanya potret sosial yang masih menjunjung tinggi tradisi dengan tema-tema pertentangan adat dan kawin paksa. 3. Kecenderungan didaktis dan bebas dari unsur-unsur politik dan agama. 4. Setting fisik dan setting sosial masyarakatnya sangat jauh berbeda dengan kehidupan saat ini. Bacalah kutipan novel berikut ini dan kerjakan pelatihan yang menyertainya! Bagian IV Loket bagian jawatan air dari Kotapraja tidak begitu ramai seperti biasa. ruangan di muka loket-loket yang berderet itu sudah tipis orang-orangnya. Memang hari pun sudah jam satu lebih. Yang masih berderet di muka loketku hanya beberapa orang saja lagi. Aku asyik meladeni mereka. Seorang demi seorang meninggalkan loket setelah diladeni. Ekor yang terdiri dari orang-orang itu itu makin pendek, hingga pada akhirnya hanya tinggal satu orang saja lagi. Pada saat itu masuklah seorang laki-laki muda dari pintu besar ke dalam ruangan. Ia diiringi oleh seorang perempuan. Setelah masuk, kedua orang itu berdiri beberapa jurus melihat ke kiri ke kanan, membaca merek-merek yang bertempel di atas loket- loket. “Itu!” kata si laki-laki muda itu sambil menunjuk ke loketku. Sepasang selop merah berkeletak di berkeletak di belakangnya, diayunkan oleh kaki kuning langsep yang dilangkahkan oleh seorang wanita berbadan lampai. Laki-laki itu kira-kira berumur dua puluh delapan tahun. Parasnya tampan, matanya menyinarkan intelek yang tajam. Kening di atas pangkal hidungnya bergurat, tanda banyak berpikir. Pakaiannya yang terdiri dari sebuah pantalon flanel kuning dan kemeja creme, serta pantas dan bersih. Ia tidak berbaju jas, tidak berdasi. Terkejut aku sejenak, ketika aku melihat perempuan yang melenggoi-lenggoi di belakangnya itu. Hampir-hampir aku hendak berseru. Kukira Rukmini…. Wanita itu nampaknya tidak jauh usianya dari dua puluh tahun. Mungkin ia lebih tua, tapi pakaian dan lagak-lagunya mengurangi umurnya. Parasnya cantik. Hidungnya bangir dan matanya berkilau seperti mata seorang wanita India. Tahi lalat di atas bibirnya dan rambutnya yang ikat berlomba-lombaan menyempurnakan kecantikannya itu. Badannya lampai tapi penuh berisi. Ia memakai kebaya merah dari sutra yang tipis, ditaburi dengan bunga melati kecil-kecil yang lebih putih nampaknya di atas latar yang merah. Kainnya batik Yogya yang juga berlatarkan putih. Orang penghabisan sudah kuladeni. “Sekarang Tuan,” kataku. “Saya baru pindah ke Kebon Mangga 11,” sahut laki-laki itu sambil bertelekan dengan tangannya di atas landasan loket. “O, minta pasang?” “Betul, Tuan!…” sejuruh ia menatap wajahku”…. Tapi… tapi tiba-tiba astaga, ini kan Saudara Hasan, bukan?” “Betul,” sahutku agak tercengang, lantas menegas-negas wajah orang itu,” dan Saudara… siapa?” “Lupa lagi?” tersenyum. “Masa lupa? Coba ingat-ingat!” Kutegas-kutegas lagi. “An! Tentu saja aku tidak lupa! Ini kan Saudara Rusli?” riang mengeluarkan tangan ke luar loket untuk berjabatan. Saat itu pula dua badan yang terpisah oleh dinding sudah bersambung oleh sepasang tangan kanan yang erat berjabatan. Mengalir seakan-akan rasa persahabatan yang sudah lama itu membawa kenangan kembali dari hati ke hati melalui jembatan tangan yang bergoyang-goyang naik-turun seolah-olah menjadi goyah karena derasnya aliran rasa itu. Kepalaku seakan-akan turut tergoncangkan, menggeleng-geleng sambil berkata, “Astaga, tidak mengira kita akan berjumpa lagi, ya. Di mana sekarang? “Di sini? Syukurlah…. Astaga! menggeleng lagi kepala. Sudah lama kita tidak berjumpa, ya? Sejak kapan?” “Saya rasa sejak sekolah HIS di Tasikmalaya dulu. Sejak itu kita tidak pernah berjumpa lagi.” “Memang, memang mengangguk-angguk memang sudah lama sekali ya? Sudah berapa tahun?” “Saya rasa tidak kurang dari lima belas tahun.” “Ya, ya, lima belas tahun berkecak-kecak dengan lidah bukan main lamanya, ya! Tak terasa waktu beredar. Tahu-tahu kita sudah tua, bukan?” Kami tertawa. “Eh perkenalkan dulu, adikku. Kartini menoleh kepada perempuan itu. Tin! Perkenalkan, ini Saudara Hasan, teman sekolah dulu.” Dengan senyum manis Kartini berkisar dari belakang ke samping Rusli, lantas dengan mengerling wajahku diulurkannya tangannya yang halus itu ke dalam loket. ….. Rusli itu adalah seorang kawanku ketika kecil. Agak akrab juga kami berteman, bukan saja oleh karena satu kelas, tapi pun juga oleh karena kami bertetangga. Kami banyak bersama. Sepak bola di alun-alun, main gundu di pekarangan orang, memungut buah kenari yang banyak tumbuh di tepi jalan raya, selalu kami bersama. Malah sakit pun pernah bersama-sama, sebab terlalu banyak makan rujak juga bersama-sama. Hanya dalam dua hal kami tidak pernah bersama-sama, yaitu kalau Rusli berbuat nakal, dan apabila aku sembahyang. Orang tuaku melarang nakal, menyuruh sembahyang. Orang tua Rusli tak peduli. Dan kalau kami bersama-sama pergi ke mesjid, maka aku untuk sembahyang, sedang Rusli untuk mengganggu khatib tua yang tuli atau untuk memukul-mukul bedug. Dan tak jarang pula aku sendiri diganggunya dalam sembahyang, dikili-kilinya telingaku, aku dipeluknya dari belakang, kalau aku sedang berdiri hendak melakukan rakaat pertama. Sesungguhnya, kami berdua sangat berbedaan tabiat, tapi anehnya, biarpun begitu masih juga kami bisa bergaul dengan karib. Memang anak-anak belum merenggangkan satu dari yang lainnya lantaran sikap, hidup yang berlainan. Oleh karena itu barangkali dunia ini baru akan bisa aman dan damai kalau penduduknya hanya terdiri dari kanak- kanan melulu. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan berdiskusi kelompok! 1. Siapa sajakah tokoh-tokoh dan karakter tokoh dalam kutipan novel tersebut? 2. Jelaskan setting fisik dan sosial dalam kutipan novel tersebut! 3. Hasan berada di sebuah jawatan. Di jawatan apakah ia bekerja? Bandingkan pengistilahan tempat bekerjanya dengan zaman sekarang! 4. Di bagian akhir kutipan novel tersebut dijelaskan bahwa Hasan terkenang pada kenangan masa kecil dengan Rusli. Permainan apa saja yang pernah mereka lakukan pada masa itu? Bandingkan dengan keadaan sekarang, apakah anak-anak zaman sekarang masih melakukan hal serupa? 5. Hasan kecil dan Rusli memiliki dua sifat yang berbeda. Gambarkan sifat-sifat keduanya! Bandingkan dengan keadaan sekarang, apakah masih ada anak yang memiliki tabiat demikian!
MengidentifikasiKebiasaan, Adat, dan Etika dalam Novel Angkatan 20 dan 30-an. a. Adat. Adat adalah suatu aturan/peraturan yang lazim diturut/dilakukan sesuai dengan situasi dan waktu tertentu. Adat diartikan sebagai hukum tak tertulis sehingga bersifat mengikat masyarakat penggunanya.
Hasil karya sastra merupakan cermin zamannya. Sastra yang diciptakan pada masa sekarang tentu sangat berbeda dengan karya sastra yang diciptakan pada tahun 20-an atau 30-an. Tahun 20-an atau 30-an merupakan masa penjajahan sehingga karya sastra yang dihasilkan menggambarkan kehidupan pada masa penjajahan dengan liku-likunya. Kebiasaan, adat, dan etika yang dilukiskan pun merupakan pelukisan pada masa itu. Dengan demikian kebiasaan, adat, etika, dan pola pikir tokoh-tokohnya tentu berbeda dengan novel yang diciptakan pada sekarang. Namun demikian tentu saja masih banyak juga adat, kebiasaan, etika dan pola pikir masa itu yang masih relevan dengan situasi sekarang. Dengan mendalami kebiasaan, adat, etika, dan pola pikir yang terdapat dalam novel 20- atau 30-an kemudian membandingkan dengan situasi sekarang, kita dapat melihat bagaimana perkembangannya sampai sekarang ini. Hal ini penting dipelajari agar kita mampu mempertahankan nilai-nilai yang baik dan relevan dengan sekarang dan menghindari atau menjauhi kebiasaan, adat, etika, dan pola pikir yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat kita, baik nilai moral, sosial, maupun nilai agama. Itu sebabnya kompetensi dasar ini penting untuk kamu kuasai dengan baik. Pengertian Mengidentifikasi =mengenali Kebiasaan = kegaliban, kelaziman, kerutinan Adat = budaya, tata cara, aturan Etika = etiket, akhlak, budi pekerti, tata susila kesopanan, kesantunan. Adat dan Kebiasaan dalam Novel Angkatan 20-30an Setiap zaman mempunyai adat dan kebiasaannya masing-masing, misalnya dalam cara berpakaian, makan, bertamu, upacara pernikahan, syukuran kelahiran anak, dan sebagainya. Kebiasaan satu masyarakat dapat diketahui dari karya-karya yang diciptakan pada masyarakat itu. Sebagai contoh, perhatikan cuplikan berikut. Berkali-kali ia bangun dari tidurnya. Lalu, memasang lampu listrik dan menulis surat panjang kepada Corrie. Tapi, dirinya semakin khawatir saja. Maka, dengan tidak berpikir panjang, dibukanyalah lemari pakaiannya. Lalu, diisinya sebuah koper kulit dengan pakaian dan pelbagai barang yang berguna bagi perjalanannya. Hanafi akan berangkat ke Semarang. Dengan tidak dibacanya lagi, surat itu dibungkusnya, diletakkannya di atas meja beranda muka. Jika ia otak tenang di hati, kemudian dapat pula membaca suratnya itu niscahaya Hanafi akan heran, bagaimanakah keadaan otaknya masa itu. Karena surat amat kacau isinya dan tidak berkentuan ujung pangkalnya. Salah Asuhan, Abdul Muis, 1928 Terdapat beberapa alat teknologi yang dinyatakan dalam cuplikan di atas, yakni lampu listrik, surat, lemari pakaian, dan koper kulit. Dengan demikian, berdasarkan cerita itu, alat-alat seperti lampu listrik dan lemari pakaian sudah dikenal pada tahun 1920-1930an. Hanya saja bentuknya yang mungkin berbeda. Dari sebuah cerita, kita pun dapat mengenal adat dan kebiasaan satu masyarakat. Seperti tampak dalam cerita tersebut, yaitu – Pakaian disimpan dalam lemari – Bila bepergian jauh membawa koper kulit Kaitan Isi Novel dengan Kehidupan Nyata Cerita dalam novel merupakan hasil imajinasi. Meskipun demikian, hal itu tidak lepas dari pengalaman nyata pengarangnya, tidak lepas pula dari adat kebiasaan yang berlaku pada masyarakatnya. Sebagai contoh, perhatikan kembali cuplikan novel Salah Asuhan. Memasang lampu listrik ketika akan menulis surat merupakan peristiwa yang biasa dilakukan ketika malam hari. Begitu pun dengan mengisi koper dari pakaian yang diambil dari dalam lemari, juga merupakan peristiwa yang sering dijumpai dalam kehidupan nyata. Karakteristik Novel Angkatan 20-30an Karya-karya sastra yang lahir pada periode 1920-1930an sering disebut sebagai karya sastra Angkatan Dua Puluhan atau Angkatan Balai Pustaka. Disebut Angkatan Dua Puluhan sebab novel yang pertama kali terbit adalah pada tahun 1920, yakni novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar. Disebut juga Angkatan Balai Pustaka area karya-karyanya banyak yang diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka. Peran Balai Pustaka dalam menghidupkan dan memajukan perkembangan sastra Indonesia memang sangat besar. Penerbitan pertamanya adalah buku novel Azab dan Sengsara dan kemudian berpuluh-puluh novel lain diterbitkan pula termasuk buku-buku sastra daerah. Selain disebut Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Dua Puluhan disebut juga Angkatan Siti Nurbaya karena novel yang paling laris dan digemari masyarakat pada masa itu adalah novel Siti Nurbaya karangan Marah Rusli. Novel-novel yang lahir pada periode tersebut memiliki persamaan-persamaan umum, yakni banyak yang bertemakan masalah adat dan kawin paksa. Novel-novel tersebut juga banyak yang berlatar daerah Minangkabau. Hal tersebut karena dipengaruhi oleh latar belakang pengarangnya mayoritas berasal dari daerah Sumatera Barat. Ciri lainnya dapat dilihat pada cuplikan berikut. Pada malam itulah Hanafi baru dapat “menguak” utangnya kepada ibunya, yaitu utang yang kira-kira belum akan langsung terbayar, meskipun ia memperbuat mahligai tinggi bagi ibunya. Hanafi mengakulah sekarang bahwa ibunya bukan orang bodoh, oleh karena itulah timbullah sebab adab dan cinta kepada orang itu. Sebab selamanya itu, ibunya hanya memperturutkan saja segala kehendaknya dengan tidak melakukan kekerasan sekali juga. Salah Asuhan, Abdul Muis, 1928 Novel tersebut diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1928. Dari bahasanya saja tampak bahwa novel tersebut merupakan karya tempo dulu. Banyak kata dan kalimat yang tidak dipahami. Walaupun sama-sama menyatakan hubungan penyebaban, maksud dari kalimat-kalimat itu susah dicerna. Selain kata-katanya banyak yang telah usang, novel tahun 20-30an sering menggunakan ungkapan-ungkapan yang bersifat klise sering dipakai. Susunan kata yang sejenis banyak digunakan oleh pengarang-pengarang dalam berbagai karyanya. Kata-kata itu misalnya pada satu hari, tatkala itu, wajahnya bermuram durja, berbagai-bagai kelakuan mereka, wajahnya cantik jelita, dsb. Ciri lainnya bahwa novel tahun 20-30an banyak yang menggunakan bahasa percakapan sehari-hari. Hal ini berbeda dengan karya-karya pada periode sebelumnya yang bahasanya itu lebih kaku. Perhatikan kutipan berikut. Hanafi menyesali dirinya tidak berhingga-hingga. Maka ditutupnyalah mukanya dengan kedua belah tangannya, lalu menangis mengisak-isak sambil berseru dalam hatinya. “Oh, Corrie, Corrie istriku! Di manakah engkau sekarang? Lihatlah suamimu menyadari untung, lekaslah kembali, supaya kita menyambung hidup kembali seperti dulu.” Salah Asuhan, Abdul Muis, 1928 Bahasa percakapan sehari-hari dalam cuplikan di atas, antara lain tampak pada perkataan tokoh Hanafi. Kata-kata tersebut merupakan ragam bahasa percakapan. Hal ini terutama pada kata seru oh yang sampai sekarang pun kita sering menggunakannya ketika bercakap-cakap. Maka dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri novel angkatan 20-30an adalah sebagai berikut. Tema permasalahan adat, romantisme, kawin paksa Pengarang berlatar belakang Minangkabau Bahasa bersifat klise, percakapan sehari-hari Sumber Tri Retno Murniasih dan Sunardi. 2008. Pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX. Jakarta Pusat Perbukuan Depdiknas. 129-134. Kosasih dan Restuti. 2008. Mandiri Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX. Jakarta Penerbit Erlangga. 123-130.
Buktikutipan: "Dekat putri ini, duduk saudaranya yang bungsu, Sutan Hamzah sedang menggulung rokok dengan daun nipah. 3. Menemukan ciri-ciri novel Siti Nurbaya (novel angkatan 20-an) Ciri-ciri novel tersebut, antaralain; - Menggambarkan tema pertentangan faham antara kaum muda dan kaum tua, soal perkawinan paksa, pertentangan adat, dll.
PertanyaanAliran pada novel angkatan 30-an, yaitu....RealismePosmodernismeRomantisismeRomantik idealisHHH. HartantoMaster TeacherMahasiswa/Alumni UIN Syarif Hidayatullah JakartaJawabanjawaban yang tepat adalah pilihan yang tepat adalah pilihan novel angkatan 30-an, yaitu romantik idealis. Sementara itu, aliran romantisisme merupakan aliran novel angkatan 20-an. Sementara itu, aliran realisme dan posmodernisme tidak terdapat pada novel angkatan 30-an. Oleh karena itu, jawaban yang tepat adalah pilihan novel angkatan 30-an, yaitu romantik idealis. Sementara itu, aliran romantisisme merupakan aliran novel angkatan 20-an. Sementara itu, aliran realisme dan posmodernisme tidak terdapat pada novel angkatan 30-an. Oleh karena itu, jawaban yang tepat adalah pilihan pemahamanmu bersama Master Teacher di sesi Live Teaching, GRATIS!21 Pembahasankali ini adalah mencakup karakteristik novel angkatan 20-30an, ciri-ciri novel angkatan 20-30an dan contoh novel angkata 20-30an. Seperti pelajaran yang lalu, kali ini kamu akan diminta untuk membaca novel Angkatan 20 dan 30-an. Selanjutnya kamu harus dapat membandingkan karateristik dalam novel-novel tersebut. Novel adalah karangan prosa yang panjang, yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Dibandingkan dengan roman, model penceritaan novel tidak begitu terperinci. Ciri khas novel yaitu adanya perubahan nasib tokoh yang diceritakan. Sejarah novel Indonesia diawali sekitar tahun 1920-an, dengan pengarang seperti Marah Rusli, Merari Siregar, Sultan Takdir Alisjahbana, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Jamaluddin Adinegoro, Hamka Abdul Malik Karim Amrullah, Sariamin Selasih/Seleguri, Suman Hs. Hasibuan, Tulis Sutan Sati, Mohammad Kasim, dan Aman Datuk Madjoindo. Novel Indonesia tahun 1920 sampai 1930-an termasuk dalam angkatan Balai Pustaka. Balai Pustaka merupakan sebuah komisi Commissie voorchet volkslectuur yang didirikan pada tanggal 14 September 1908. Tujuan pendirian Balai Pustaka adalah 1 memberi bacaan kepada rakyat untuk menyaingi penerbitan Cina, yang dianggap membahayakan pemerintah Belanda serta 2 memasukkan tujuan utama pihak penjajah ke dalam jiwa bangsa Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, ada beberapa syarat naskah yang masuk ke Balai Pustaka, yakni netral dari agama, tidak mengandung politik, dan tidak menyinggung kesusilaan. Untuk meningkatkan pemahaman tentang novel Indonesia tahun 1920 sampai 1930-an berikut ini adat, kebiasaan, dan etika yang terdapat dalam beberapa novel angkatan Balai Pustaka. a. Adat Adat adalah suatu aturan/peraturan yang lazim diturut/dilakukan sesuai dengan situasi dan waktu tertentu. Adat diartikan sebagai hukum tak tertulis sehingga bersifat mengikat masyarakat penggunanya. Adat inilah yang akan menentukan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Jika tokoh mematuhi adat yang berlaku, maka ia dianggap tokoh yang baik dan layak ditiru. Sebaliknya, jika ada tokoh yang menentang atau tidak taat adat biasanya akan dijauhi atau dihukum sesuai adat yang berlaku. b. Kebiasaan Kebiasaan merupakan budaya atau tradisi masyarakat yang turun-temurun dilakukan. Kebiasaan terkait latar belakang budaya dalam cerita. c. Etika Etika berkaitan dengan apa yang dianggap baik atau buruk, atau sopan-tidak sopan pada kebiasaan tokoh-tokoh ceritanya. Etika berkaitan dengan moral atau perilaku yang terpengaruh oleh adat dan kebiasaan. d. Bahasa Bahasa yang digunakan pada karya sastra Angkatan 20-an dipengaruhi oleh bahasa daerah. Penggunaan ungkapan dan perbandingan sebagai bentuk kiasan banyak dijumpai dalam karya sastra angkatan 20-an. 1. Novel Azab dan SengsaraAzab dan Sengsara adalah sebuah novel tahun 1920 yang ditulis oleh Merari Siregar dan diterbitkan oleh Balai Pustaka, penerbit besar di Indonesia kala itu. Novel ini mengisahkan sepasang kekasih, Amiruddin dan Mariamin, yang tidak dibolehkan menikah dan menderita. Novel ini dianggap sebagai novel modern pertama dalam bahasa Indonesia. Adat dan kebiasaan yang bisa ditemukan pada novel "Azab dan Sengsara" sebagai berikut. Menikahkan anak secara paksa jodoh dipilihkan orang tua Aminudin dijodohkan dengan wanita bukan pilihannya Harta merupakan pertimbangan dalam menjodohkan anak Mariamin berasal dari keluarga kurang mampu maka ditolak oleh keluarga Aminudin. Poligami laki-laki dengan istri lebih dari satu Kasibun mengku perjaka ternyata telah beristri, dan Mariamin dijadikan isteri kedua. Budaya makan keluarga selalu dilakukan bersama-sama lengkap; ayah, ibu, dan anak. Jika ada sesuatu hal yang di luar kebiasaan terjadi, maka anak diperbolehkan makan terlebih dahulu. Sementara istri harus tetap mengunggu suaminya. Anak harus menurut perintah ibunya. Kutipannya sebagai berikut. Etika moral yang dapat kita temukan pada novel "Azab dan Sengsara" sebagai berikut. Anak sangat berbakti kepada orang tuanya. Aminudin tak mencintai wanita pilihan orang tuanya namun tak berani menolak karena baktinya kepada orang tuanya. Isteri sangat taat kepada suaminya. Meskipun Mariamin ditipu oleh Kasibun yang mengaku perjaka, ia tetap berbakti kepada suaminya. Kebiasaan yang bisa ditemukan pada novel "Azab dan Sengsara" sebagai berikut. Telekomunkasi jarak jauh asih menggunakan surat atau telegram Pernikahan dipandang dari bibit, bebet, dan bobot Anak laki-laki biasanya pergi merantau untuk mencari pekerjaan 2. Novel Sengsara Membawa Nikmat Sengsara Membawa Nikmat merupakan judul sebuah novel karangan Tulis Sutan Sati yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada tahun 1929. Dengan latar belakang adat budaya Minangkabau, novel ini berkisah tentang pengembaraan seorang tokoh utamanya yang bernama Midun. Gambaran pengembaraan yang diceritakan cukup realistis serta tidak terpaku di wilayah Sumatera saja namun juga sampai ke pulau Jawa. Etika moral yang dapat kita temukan pada novel "Sengsara Membawa Nikmat" sebagai berikut. Agama dijunjung tinggiterutama Islam. Kehidupan masyarakatnya bergotong royong Penguasa sering semena-mena, bahkan berbuat kejam. Adat yang bisa ditemukan pada novel "Sengsara Membawa Nikmat" sebagai berikut. Mengenai warisan, harta benda yang ditinggalkan oleh yang meninggal menjadi hak/diambil alih oleh keluarga asal bukan keluarga setelah menikah Sumatra Aturan adat sangat ketat, dan bagi yang melanggar hukumannya berat Penyerahan kekuasaan terhadap penerusnya dalam suatu daerah diserahkan oleh pemegang jabatan/kekuasaan sebelumnya Kebiasaan yang bisa ditemukan pada novel "Sengsara Membawa Nikmat" sebagai berikut. Para pemuda memainkan permainan sepak raga prmainan bola kaki Masih jaman penjajahan Belanda Hampir semua pemuda di daerah tersebut mengenal ilmu bela diri Banyak penduduk yang tidak bisa membaca 3. Novel Salah Asuhan Salah Asuhan adalah sebuah novel Indonesia karya Abdoel Moeis yang diterbitkan tahun 1928 oleh Balai Pustaka. Novel yang kala itu terbit di Hindia Belanda ini sekarang telah dianggap sebagai salah satu karya sastra Indonesia modern awal terbaik sepanjang masa. Etika moral yang dapat kita temukan pada novel "Salah Asuhan" sebagai berikut. Penolakan secara halus dan tidak menyakiti hati saat ada yang menyatakan perasaan. Bukti Ketika Hanafi mengemukakan isi hatinya. Belenggu Kebiasaan Bukti Sementara itu. walaupun mereka telah mengetahui bahwa Hanafi akan menikah dengan Corrie. Corrie menolak secara halus. Meminta maaf apabila berbuat salah. Bukti Maka ia meminta kepada istrinya supaya disediakan kain kafan pembungkus mayatnya. Adat yang bisa ditemukan pada novel "Salah Asuhan" sebagai berikut. Dilarang menikah beda suku. Bukti Corrie merasa tidak mungkin menjalin hubungan dengan Hanafi karena perbedaan budaya di antara mereka. Sebagai seorang istri, sudah sewajarnya menunggu suami di rumah. Seorang istri bagaimanapun juga harus bersikap hangat pada suami. Rapiah dan ibunya tetap menunggu kedatangan Hanafi di kampungnya. Kebiasaan yang bisa ditemukan pada novel "Salah Asuhan" sebagai berikut. Hanafi Bergaul dengan orang Selama di Betawi, Hanafi dititipkan pada keluarga Belanda,sehingga dia setiap hari dididik secara Belanda dan bergaul dengan orang-orang Belanda. Pergaulan Hanafi setamat HBS juga tidak terlepas dari lingkungan orang-orang Eropa. Corrie Mengobrol bersama Mereka suka mengobrol berdua. Rapiah Menerima perlakuan suaminya dengan pasrah. Bukti Namun, Rapiah tak pernah melawan dan semua perlakuan Hanafi diterimanya dengan pasrah. Ibu Hanafi Memperhatikan Hanafi. Bukti Walaupun ibu Hanafi hanyalah seorang janda, dia menginginkananaknya menjadi orang pandai. Karena itu, ia bermaksud menyekolahkan Hanafi setinggi-tingginya. Selama sakit, Hanafi banyak mendapatkan nasihat dari ibunya. 4. Novel Siti Nurbaya Sitti Nurbaya adalah sebuah novel Indonesia yang ditulis oleh Marah Rusli. Novel ini diterbitkan oleh Balai Pustaka, penerbit nasional negeri Hindia Belanda, pada tahun 1922 Kebiasaan yang bisa ditemukan pada novel "Siti Nurbaya" sebagai berikut. Ia terbiasa memakai topi putih yang seringkali dipakai bangsa Belanda. Bukti kutipan "Topinya topi rumput putih yang biasa dipakai bangsa belanda" Seorang gadis yang selalu mengenakan gaun terbuat dari kain batis dengan motif kembang kembang berwarna merah jambu. Bukti kutipan "Gaunnya baju nona-nona terbuat dari kain batis yang berkembang merah jambu" Orang zaman dahulu merokok dengan cara yang berbeda dengan orang-orang zaman sekarang. Bukti kutipan "Dekat putri ini duduk saudaranya yang bungsu, Sutan Hamzah sedang menggulung rokok dengan daun nipah." Orang padang saat berbicara seringkali menggunakan peribahasa yang penuh arti. Bukti kutipan "Akan tetapi sebab ia seorang yang 'pandai hidup' sebagai kata peribahasa Melayu, selalulah rupanya seperti orang yang tak pernah kekuranagan. Seorang istri di masyarakat padang merupakan hamba dari laki-laki dan laki-laki itu adalah tuannya perempuan. Bukti kutipan "Bukankah laki-laki itu tuan perempuan dan perempuan itu hamba laki-laki? Tentu saja mereka boleh berbuat sekehendak hatinya kepada kita; disiksa, dipukul, dan didera dengan tiada diberi belanja yang cukup dan rumah tangga yang baik." Adat yang bisa ditemukan pada novel "Siti Nurbaya" sebagai berikut. Jika akan melaksanakan proses perdukunan, hendaklah harus menyiapkan syarat-syaratnya. Bukti kutipan "Baiklah... Hamba mohon perasapan dan kemenyan serta air bersih secambung dan sirih kuning tujuh lembar." Di Padang, pernikahan dipandang sebagai perniagaan, laki-laki dibeli oleh perempuan, karna perempuan memberi uang kepada laki-laki. Bukti kutipan "Perkawinan itu dipandang sebagai perniagaan, disini laki-laki dibeli oleh perempuan" Di gunung Padang terdapat banyak kuburan, dan pada moment tertentu, tempat itu ramai dikunjungi pendatang yang ingin mendoakan arwah yang telah pergi. Bukti kutipan " Memang digunung itu banyak kuburan, sedang dipuncaknya adalah sebuah makam, didalam suatu gua batu, tempat yang berkaul dan bernazar. Sekali setahun, saat-saat akan masuk puasa pada waktu hari raya, penuhlah gunung itu dengan penziarah..." Orang besar, penghulu/orang berpangkat tinggi yang memiliki istri lebih dari 1 sudah banyak, sebab itulah adat di Padang, sebab dengan memiliki banyak istri, itu berarti dia meiliki banyak keturunan. Bukti kutipan "Sekalian penghulu di Padang ini beristeri 2,3, sampai 4 orang. Bukankah harus orang besar itu beristri banyak?" Saat ingin makan, sebelumnya harus menyiapkan makan terlebih dahulu dan bersikap seperti ada yang sudah ada. Bukti kutipan ".... menyediakan makanan diatas tikar rumput yang telah dialas dengan kain putih, terbentang di tengah rumah. Beberapa lama kemudian, duduklah Ahmad Maulana makan dihadapi istrinya, sedang Alimah & Nurbaya duduk jauh sedikit dari sana...." Etika moral yang dapat kita temukan pada novel "Salah Asuhan" sebagai berikut. Janganlah kamu bersenang-senang diatas penderitaan orang lain. Bukti kutipan "Tatkala ayahku telah jatuh miskin, pura-pura kau tolong Ia dengan meminjamkan uang kepadanya, tetapi maksudmu yang sebenarnya hendak menjerumuskannya ke jurang yang terlebih dalam, karena hatimu terlebih bengis daripada setan itu, belum puas lagi." Apabila ada tamu yang datang hendaknya kita menyediakan minuman dan makanan kecil. Bukti kutipan "Sementara itu segala kue-kue yang lezat rasanya, diedarkanlah, dibawa kepada sekalian tamu. Demikian pula minum-minuman..." Sebagai anak muda, hendaklah kita menghormati dan menghargai orang yang lebih tua. Bukti kutipan "Ah jangan Sam. Kasihanilah orang tua itu! Karena ia bukan baru sehari dua hari bekerja pada ayahmu. melainkan telah bertahun-tahun. Dan belum ada ia berbuat kesalahan apa-apa." Jika sedang bermain dengan teman, sebaiknya kita menjaga tingkah laku. Bukti kutipan "Baiklah, tetapi hati-hati engkau menjaga dirimu dan si Nurbaya! Janganlah engkau berlaku yang tiada senonoh!" Jika orang tua kita sedang berbincang dengan tamu, dan kita tidak berkepentingan, sebaiknya kita masuk dan tidak perlu mendengarkan pembicaraan mereka. Bukti kutipan "Kemudian masuklah ia kedalam biliknya. Rupanya ia mengerti bahwa orangtuanya itu sedang memperbnincangkan hal yang tak boleh didengarnya." 5. Novel Salah Pilih Adat yang bisa ditemukan pada novel "Salah Pilih" sebagai berikut. Jika sedarah dilarang menikah, karena Asri dan Asnah sudah tinggal bersama maka penduduk desa menganggap bahwa mereka adalah sedarah sebenarnya tidak, tidak ada ikatan darah apapun. Karena merasa tidak bersalah mereka akhirnya menikah dan mereka harus keluar dari Minangkabau. Harta dan kedudukan, Rangkayo Saleah tidak menyetujui pernikahan anaknya karena mengira Kaharuddin menikah dengan wanita yang tak tentu asal usulnya sebenarnya wanita tersebut adalah anak saudagar batik. Etika moral yang dapat kita temukan pada novel "Salah Pilih" sebagai berikut. Anak yang berbakti terhadap orang tuanya, meskipun Asri ingin melanjutkan sekolah sampai menjadi dokter namun, karena ibunya memintanya untuk pulang ke kampung halamannya dan bekerja di kampung. Akhirnya Asri menuruti keinginan ibunya. Kita harus tegar menghadapi cobaan, sikap Asnah yang sabar dan tulus mencintai Asri membuahkan hasil yang manis walaupun ia harus menghadapi berbagai cacian dari Saniah. Berkat keteguhan dan kesabaran hati Asnah dalam mencintai Asri membawa kebahagiaan di akhir cerita. Kita harus bekerja keras, awal kepindahannya di Jawa, Asri dan Asnah dijauhi oleh orang-orang yang sama-sama berniaga di Jawa. Karena kerja keras mereka, akhirnya mereka dapat memajukan usahanya. Bertanggung jawab, Asri tidak berniat sedikit pun untuk menceraikan Saniah meskipun Saniah bukanlah jodoh yang terbaik.
Novelangkatan 20-30an atau disebut juga Novel Angkatan Balai Pustaka menjadi salah satu materi yang dibahas di kelas 9 semester 2 (kalo gak salah sih..). langsung aja aku share beberapa sinopsisnya ya 1. Anak dan Kemenakan. Mr. Muhammad Yatim, dr.Aziz, Puti Bidasari, dan Sitti Nurmala adalah empat orang yang sudah menjalin persahabatan dari
September 26, 2022 245 pm . 5 min read Judul Novel 20-30 an akan kamu ketahui sebentar lagi di artikel ini. Di sini akan di bahas mengenai penulis beserta karya-karyanya yang pernah terbit di sekitar tahun 1920-1930. Karya-karya tersebut pernah menjadi best seller pada masanya. Berikut juga penulisnya merupakan penulis jaman sebelum kemerdekaan terjadi. Penasaran siapa saja? Yuk, simak artikel ini sampai selesai agar kamu mengetahui informasi ini secara lengkap. 1. Marah Roesli Penulis pada era 20-30 an pertama adalah Marah Roesli atau bisa di eja dengan Marah Rusli. Ia merupakan sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka. Awal ketenarannya karena sebuah karyanya yang berjudul Siti Nurbaya yang di terbitkan pada tahun 1920 dan karya tersebut sangat populer pada masanya. Bukan hanya saat itu karya yang satu ini masih populer sampai sekarang. Bukan hanya itu novel ini juga mendapatkan penghargaan dari pemerintah RI tahun 1969. Berikut judul novel karya Marah Rusli tahun angkatan 20-30an lainnya diantaranya adalah La Hami. Jakarta Balai Pustaka 1924Gadis yang malang Nove Charles Dickens, 1922Indonesia, Tumpah Darahk 1928Tanah Air Jakarta Balai Pustaka tahun 1922Ken Arok dan Ken Dedes tahun 1934Siti Nurbaya 1920 2. Tulis Sutan Sati Selanjutnya Tulis Sutan Sati merupakan penulis angkatan Balai Pustaka yang lahir di Bukit Tinngi tahun 1898. Hal yang istimewa dari beliau adalah para tokoh, sifat tokoh, latar budaya dan gambaran Minangkabau secara detail. Di tambah dengan ia penganut agama islam yang kental sehingga banyak pesan moral, nasihat, dan cinta tanah air dalam setiap ceritanya. Berikut beberapa contoh judul novel 20-30an karya dari Tulis Sutan Sati, diantaranya adalah Tak Di sangka 1923Tak Membalas Guna 1932Sengsara Membawa Nikmat 1928Tjerita Si Umbut Muda 1935Syair Rosina 1933 3. Suman Hasibuan Penulis angkatan tahun 20-30 an lainnya adalah Suman Hasibuan. Beliau merupakan seorang sastrawan melayu yang berasal dari Tapanuli Riau dan merupakan sastrawan angkatan Balai Pustaka. Terinspirasi oleh ayahnya, yang berhenti dari klan Hasiban di Bengkalis yang dominan Melayu ia memakai nama pena Soeman Hs. Dan ia menyerahkan novel pertamanya jang berjudul Kasih Tak Terlerai ke Balai Pustaka. Soeman pada tahun 1961 ia mulai mendirikan sekolah-sekolah mulai dari TK, SD, SMP dan SMA. Gubernur Riau juga mengajaknya untuk mendirikan Universitas Islam Riau. Meski pensiun menjadi Guru namun ia bergabung di Badan Pemerintahan Harian dan terlibat beberapa yayasan berikut merupakan karya-karya kerennya pada masa angkatan 20-30 an, diantaranya adalah Kasih Tak Terlerai 1929Percobaan Setia 1931Mencari Pencuri Anak Perawan 1932Kasih Tersesat 1932Tebusan Darah 1939 4. Haji Abdul Malik Karim Buya hamka Penulis angkatan 20-30an lainnya ada Haji Abdul Malik Karim atau di kenal dengan nama Populernya yaitu Buya Hamka. Beliau merupakan sastrawan, jurnalis, ulama dan bahkan pendidik. Novel yang terkenal adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang diangkat menjadi sebuah film ini banyak menuai pujian. Judul novel 20-30an lainnya karya Buya Hamka diantaranya adalah Si Sabariah 1928Adat Minangkabau dan Agama Islam 1929Laila Majnun 1932Kepentingan melakukan Tabligh 1929Tan Direktur 1939Di Bawah Lindungan Ka’bah 1938Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck 1939Di Dalam Lembah Kehidoepan 1939Di Jemput Mamaknya 1939Mati Mengandung Malu 1934 5. Nur Sutan Iskandar Selanjutnya penulis angkatan 20-30an yang populer lainnya adalah Nur Sutan Iskandar. Beliau merupakan sastrawan paling produktif di generasi Balai Pustaka. Dia sudah menulis sejak tahun 1920an. Nur Sutan Iskandar amat tertarik pada permasalahan adat dan kaum muda khususnya menyangkut perkawinan. Berikut merupakan judul novel 20-30an karya dari Nur Sutan iskandar adalah Apa Dayaku Karena Aku Perempuan 1923Cinta Yang Membawa Maut 1926Salah Pilih 1928Abu Nawas 1929Dewi Rimba 1935Hulubalang Raja 1934Neraka Dunia 1937Katak Hendak jadi Lembu 1935Karena Mentua 1932Tuba Di Balas Dengan Susu 1933 6. Sanusi Pane Penulis selanjutnya ada Sanusi Pane. Beliau merupakan penulis atau sastrawan Indonesia yang digolongkan pada angkatan pujangga baru. Ia banyak menulis puisi, naskah drama, dan kajian sejarah. Ia lahir Mandailing Natal tahun 1905. Sanusi Pane mencari inspirasinya pada kebudayaan Budaya Hidu Budha di Indonesia pada masa lampau. Persatuan jasmani, rohani, dunia, akhirat, idealisme, dan matrelialisme yang tercermin dalam karya-karyanya. Sanusi juga pernah mendapatkan penghargaan atas karya-karyanya pada tahun 1969 dari pemerintah RI. Berikut beberapa judul novel angkatan 20-30a karya dari Sanusi Pane, diantaranya adalah Pancaran Cinta 1926Puspa Mega 1927Madah Kelana 1931Sandhykala Ning Majapahit 1933Nyanyi Sunyi 1937Begawat Gita 1933Setanggi Timur 1939Kertajaya 1932Tengku Amir Hamzah 1934 7. Abdul Muis Penulis selanjutnya pada era 20-30an adalah Abdul Muis. Beliau merupakan sastrawan, politikus, dan juga wartawan Indonesia. Dan beliau juga merupakan pengurus besar Serikat Islam. Dan ia di kukuhkan sebagai pahlawan Nasional yang pertama oleh presiden RI Soekarno pada 30 agustus 1959. Novel yang paling terkenal miliknya adalah Salah Asuhan. Novel tersebut pernah difilmkan dengan sutradara Asrul Sani. Bukan hanya itu novel Salah Asuhan ini juga pernah di terbitkan oleh Robin Susanto dan di terbitkan dengan Judul Never the Twain oleh Foundation Library of Indonesia. Berikut merupakan judul novel angkatan 20-30an karya dari Abdul Muis, diantaranya adalah Salah Asuhan 1928Pertemuan Djodoh 1933 8. Sutan Takdir Alisjahbana Penulis selanjutnya ada Sutan Takadir Alisjahbana beliau lahir pada tanggal 11 februari tahun 1908 di Mandailing Natal Sumatra Utara. Beliau meruapak seorang budayawan, sastrawan, dan juga ahli tata bahasa Indonesia. Beliau juga merupakan salah seorang pendiri Universitas Nasional Jakarta. Novel yang terkenal karyanya adalah Layar terkembang, Dian Tak Kunjung Padam novel ini prnah mendapatkan penghargaan Satyalencana kebudayaan tahun1970 oleh pemerintahan RI. Pemikirannya mengenai bahwa Indonesia haruslah belajar mengejar ketertinggalannya dengan mencari materi, modernisasi pemikiran, dan belajar ilmu-ilmu Barat. Dan hal tersebut menjadi polemik dengan cendikiawan Indonesia. Terlepas pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana tentang Modernisasi Barat. Berikut merupakan Judul Novel 20-30an karya belau yang populer, diantaranya adalah Dian Tak Kunjung Padamu 1932Tak Putus Dirundung Malang 1929Tebaran Mega 1935Layar Terkembang 1936 Akhir Kata Nah, itulah beberapa judul novel angkatan 20-30an dari berbagai penulis keren pada zamannya. Sebetulnya masih banyak judul novel lainnya. Namun, kali ini hanya 50 judul saja yang saya bahas di artikel ini. Bagaimana apakah kamu pernah coba membaca salah satu dari judul-judul novel di atas? Jika pernah coba tulis di kolom komentar ya? Judul yang mana yang pernah kamu baca? Tulis pengalamanmu di bawah dan klik share ke media sosial kamu jika di rasa artikel ini bermanfaat. .